Tidak bisakah kita berdamai dengan kecemburuan?.
Sayangnya perasaan selalu saja meraba tajam penghianatan.
Saya kira bahwa "cemburu" adalah juga hasil kerja otak kanan.
Ada persepi, ada gagasan, ada khayalan, ada setan alam bawah sadar yg ingin ikut dgn pelampiasan.
Tak habis pikir rasanya dgn segala bentuk perasaan, adalah ketiadaan yg juga begitu menyakitkan. Tentang matinya kakek kesayangan... atau pasangan yg hilang tanpa meninggalkan jawaban. Akh, saya rasa saya perlu melupakan tentang cerita di tempat sampah.
Mungkin saja cemburu adalah bentuk aniaya Tuhan, agar betapa sulitnya berbagi perasaan.
Sabtu, 06 Juni 2015
CEMBURU
Selasa, 23 Desember 2014
Nothing
Detik ini ada ratusan racun yang ingin bercumbu dengan nadiku. Mematikan saraf yang bercabang disegala sistem tubuhku. Mempermainkan tanpa mau berbagi alasan.
Pernahkan kita berjalan berdampingan? Aku rasa kita telah berhasil membasmi rasa bosan.
Diakhir tahun ini kita genap menjadi pasangan yang berjalan lebih dari empat tahunan.
Bahkan aku sempat mengingat setiap momen yang tak pernah kau berikan balasan. Iya bahkan tak ada gairahmu untuk bercumbu seharian bersamaku di perayaan.
Aku selalu bilang nanti juga akan ada saat dimana kamu membalas pesta kejutan yang hampir tidak kulupakan di sejarah hidupmu.
Kamu tau racun ini begitu ganas merampas segala keyakinan yang telah kurajut beberapa tahun.
Aku mulai lupa caranya bersabar dengan segala keegoisan. Aku meradang menjelma liar bahkan seperti kesurupan. Dan kamu masih tidak mengerti apa mau perempuan?.
Telah habis aku tawarkan kebaikanku bahkan menjelma malaikat yang tak pernah dipuja. Sedikitpun kamu tak pernah mau menyadari bahwa racun ini tak ada penawarnya.
Bahwa semua sistem tubuhku telah rapuh dan sulit sembuh.
Kita tak bisa terus begini. Bernegosiasi atau bahkan berdiskusi kita tak mampu. Kamu terlalu berambisi pada setiap kelihayaan mu membuat eanita jatuh hati. Tapi detik ini ratusan keahlianmu memenjarakan hati lenyap tak ada lagi. Aku bahkan mengerti rasanya tidak dihargai dan setiap kita berdamai dengan segala sifat bawaan semakin aku gila menahan amarah yang berkepanjangan.
Minggu, 30 November 2014
TERPENJARA SENDIRI
Titik dimana kita tidak peduli berbagi, menjauhi rontaan mimpi yang dikuasai ambisi, menelanjangi ratusan makna-makna yang ditulis rapi menjadi puisi. "Tidakah kamu mengerti? Aku ingin pergi dari penjara ini?".
Satu persatu waktu mengajarkanku sendiri melupakan mimpi yang tak bisa kukuasai. Celoteh dari berbagai tirani memaksa melucuti jati diri. Menelan ludah untuk kutukan paling kejam sepanjang tali ari-ari.
"Bosan aku mendengar dengkuran manusia pemimpi sepertimu", kali ini kata-kata itu keluar melesat tanpa peringatan sebelumnya. Menembus kedalam alam bawah sadar yang tidak bisa lepas dari obat ketakutan. Ratusan doa penawar dosa dalam ritual waktu para manusia bertuhan.
"Kalau begitu kembalikan aku pada ambisiku yang pernah kau hilangkan", aku tak tahan dengan negosiasi yang menyudutkanku pada kesabaran tak membuahkan hasil apapun.
"Aku tak heran jika kau tak pernah dapat kebahagiaan, sebab ambisi sudah melumpuhkan urat kepekaanmu pada yang sudah ditentukan". Kamu berpaling membelakangiku, seperti biasa menggantungkan amarahku di ujung sikap mengalah.
"Apa maksudmu?. Kau selalu pergi dengan tak memberi kepastian". Aku menahan gerak langkahnya yang lunglai.
"Sudahlah, selesaikan saja ambisimu sendiri, aku tak mampu mendinginkannya. Biarkan semuanya terbakar dan kamu akan tau sendiri"
Kamis, 16 Oktober 2014
MAHAR WANITA
Jika Mahar itu adalah harga sebuah wanita. Tak ada urusannya lelaki campuri urusannya. Sebab Tuhan memberi hak bicara jika itu terlalu berat dirasa. Dan menerima apapun itu adalah sudah menjadi kewajiban wanita. Karena wanita yang mulia adalah dia juga yang memaharkan dirinya untuk hal-hal yang berguna.
Selasa, 14 Oktober 2014
Kebosanan
Jika kebosanan mencapai titik paling dasar. Cukupkanlah untuk mengenang keindahan senja di ujung siang. Menanti iblis berjubah malam berkembang. Sebab berdamai dengan waktu adalah cara bertahan, cara mengantisipasi pikiran buruk datang, cara mengembalikan kata hati pada tempat yang semestinya ada. Karena kebosanan adalah jamur yang tumbuh subur jika di pupuk oleh tindakan yang keluar jalan. Dan mati jika tak disirami kebohongan.
Senin, 13 Oktober 2014
MENTAKDIRKAN PILIHAN?
Tidak bisakah kita lihat bentuk kebahagiaan?. Barangkali sebuah kebebasan otak mengasah fantasi yang mengasyikan? Atau bisa jadi para banci yang tidak punya pilihan mengganti jenis kelamin pada yang sudah ditakdirkan?. Mereka bentuk lain dari kebebasan atas pilihan?. Dan ratus juta manusia "pintar" mengasingkan...!!!. Membunuh mereka perlahan dari status sosial bernama kehidupan.
Tidak perlu diterangkan bahwa pilihan terkadang selalu bertentangan. Bukan berarti melawan Takdir Tuhan, sebab "memilih" selain dari aturan sudah pasti bertentangan. Jika benar kesuksesan berawal dari banyak pilihan yang dijalani, mengapa selalu ada tidakan "menghakimi" atasnya. Karena kita selalu punya hak atas sebuah pilihan dan punya kewaijiban diam atas pilihan seseorang.
MERBABU
Disini, kita hanya perlu mencari sugesti... Sebab ambisi hanya akan mengalahkan kita sekali jadi. Pada rumput-rumput berduri, pohon-pohon bunga abadi menjulang tinggi, serta luasnya bayangan hujan membentuk daratannya sendiri. Kita gunakan kehendak bebas untuk berbagi nafas dengan suhu dingin serta terik matahari yang tidak disadari. Membuli kulit, menampar-nampar pipi, membuatnya terbakar tanpa disadari. Yang kita perlu hanya sugesti bukan ambisi, sebab ambisi hanya akan membuat kota mati. Sebab alam bukan untuk ditaklukan, kita hanya meminjam sebagian energinya untuk bisa menyatu sampai pada titik dimana kita yakin bahwa itu adalah pilar tertinggi. Mengukur puncak dengan ujung jari...
BODOH
Hidup ini penuh dengan cocoklogi. Tapi bodohnya kita percaya begitu saja. Karena kebodohan adalah kebenaran saat manusia tak punya alasan menghakimi ilmu pengetahuan...
Kamis, 16 Januari 2014
POLA
Tidakah kita inginkan penasaran dibayar dengan kejelasan?.
Tidakah kita yang diam sebenarnya menguntai tali perasaan?.
Sebenarnya kita telah mendapati Tuhan memberi pertanda pada yang mengingat pola alam semesta.
Jumat, 22 November 2013
Persepsi pendakian terhadap alam yang diam (catatan seorang pendaki amatiran)
Jadi banyak orang yang melakukan pendakian... semakin besar pula kontribusi perusakan... Apalagi pendakian yang tidak didasari kesadaran akan lingkungan... makin banyak sampah berserakan... Hampir disemua tempat yang pernah saya kunjungi. Alam rimba kehilangan keasriannya... plastik warna warni tercecer menjadi jalur perjalanan Semacam cagar alam pulau sempu yg ditiap si2 pantainya gunukan sampah pengunjung dibiarkan. Monyet-monyet kelaparan mncri makanan smpah berantakan Semacam gunung-gunung yang tiap minggunya mendapat pengunjung ribuan... membuka jalur, mematahkan dahan membuang pembalut di semak-semak pepohonan Semacam pantai yang dalam pasirnya terdapat botol2 minuman. Plastik-plastik makanan. Dan di sela-sela karang dan bebatuan sedal dan pakaian... Kesadaran akan lingkungan memang selalu menjadi alasan bagi para mereka penikmat hutan. Mereka ingin semakin dekat dengan Tuhan. Satu hal yang tidak pernah kita sadari. Yaitu tentang ketidaksadaran itu sendiri. Kontribusi yang nampak seperti ilusi. Seperti determinis dan possiblis... teori pemahaman manusia terhadap alam. Seperti itu pula manusia beralasan. Mereka dan juga saya akan tetap beralasan, bahwa pendakian asal didasari kesadaran terhadap lingkungan. Itu dibenarkan. Banyaknya pendakian pemula atau mereka yang sekedar penasaran semakin meningkat jumlahnya. Itu bisa jadi akibat dari perubahan sosial Bisa jadi trend para wisatawan luar yang dtg keindonesia. Bisa pula pengaruh industri pariwisata. Bisa karena kebosanan terhadap kota. Ya bisa-bisa saja... karena sesuai teori respon sendiri. Persepsi, sikap, kemudian perilaku... dan sudah tidak aneh jika sikap tak sesuai perilaku. Pada dsrnya kita manusia selalu punya peran yg lebih daripada yang diam. Seperti alam. Kita didasari persepsi untuk selanjutnya melakukan tindakan. Itu manusia. Semua manusia seperti itu. Semua dimulai dari persepsi kita terhadap suatu objek. Dan alam adalah objek. Kita tidak bisa menyalahkan kemanusiawian kita. Biar bagaimanapun didunia manusia selalu lebih punya peran. Dan alam adalah kajian. Penasaran adalah cara mendapatkan jawaban. Tindakan adalah cara kita menentukan keyakinan. Mungkin Saya juga menyadari sebagai yang memiliki peran. Sebagai salah satu korban rasa penasaran. Yang menjawabnya dengan tindakan (pendakian) Pernah saya berfikir bahwa semakin banyak kita membawa org melakukan pendakian. Kita juga berkontribusi besar terhadap kerusakan. Tapi sekali lagi, kita manusia lebih punya peran menentukan. Kita punya alasan. Kita punya motif melakukan tindakan. Terhadap lingkungan kita hanya bisa berpresepsi, bersikap, tapi tidak berpartisipasi. Kita hanya manusia. Itu saja.
Begitulah tulisan tentang persepsi, sikap saya terhadap sesuatu. Semoga dari tulisan ini pembaca bisa menyimpulkan. Karena sesuai dengan presepsi itu sendiri adalah hasil dari penggunan panca indra. Saya melihat, saya merasakan. Setiap kita punya pandangan. Hasil dari pemahaman. Hasil kerja panca indra. Kita memang tidak bisa menghindari ketidaksadaran. Karena kita selalu beralasan sebagai yg lebih punya peran (sudut pandang manusia). Itulah yang tidak membuat saya berhenti melakukan pendakian, perjalanan, menerobos hutan-hutan. Karena saya berperan. Saya manusia. Alam hanya diam. Semacam bentuk keegosian bukan? Itu masalah tersendiri yang tidak bisa saya lawan. Sejauh ini saya hanya berupaya taat pada aturan.
Kamis, 14 November 2013
Tanpa Judul
Selasa, 01 Oktober 2013
Kartu AS, Sejarah yang Kandas
Sajak malam tangisan para preman jalan dan kaum urban yang menindas gelandangan... Nyanyian para pengamen dan jeritan monyet di stopan...merangkul setiap irama mesin-mesin panas yang diistirahatkan. Terpaksa sekedar lari dari kejaran para tilang peraturan.
Belum pantas dikatakan kesadaran. Sebab kesadaran tercipta dari titik pertemuan jantung dan hati. Didalamnya dia dihubungkan dengan perangkat atas dalam sebuah batok keras. Bernama akal pikiran. Suatu yang khas dari manusia yang cerdas.
Dari dalam batok yang keras pula hinggap jamur-jamur ganas. Mereka terkenal diberbagai daratan didunia. Bahkan menamainya sebagai hasil pikiran dari otak yang paling cerdas. Kebudayaan dari zaman yang sudah kandas. Dari zaman emas. Zaman yang sampai saat ini masih menjadi sejarah-sejarah tak diketahui bangsa ras.
Jumat, 20 September 2013
HABLUM MINANNAS
Ada sebagian hati yang mulai terjengkali. Dan setiap perjalanan adalah dambaan sebagai sebuah utusan yang siap bertempur di medan peperangan...
Kita mengakali dosa dan membentangkan kain dari maha raja yang tak satu setanpun mencoba mencari kesalahan untuk kemenangannya.
Sekali kita berkata tentang arti kekejaman.... Maka semua kekuatan akan mencoba memasang keperkasaan....
Sementara pada pertalian dua insan yang dikremasi oleh leluhur sebangsanya... kini kita jumpai sebatas kehawatiran yang memuncak diatasnya...
Sekalipun kita tidak pernah bertanya apakah ada sebuah kekuatan diluar dugaan?...
Dosa akan terus berharap berenkarnasi dipedupaan...
Terlalu banyak otak yang diasah semakin tumpul pada kepekaan... dan semakin menjauh dari arti kemanusiaan...
Sementara ancaman depopulasi memuncak dipermukaan... kita saksikan penderitaan... atas penobataan..
kita menjelma Menjadi udang rebus kemerahan...
Akh... fantasi luar biasa ini makin muncrat diselingi bau amis darah bercucuran... Tidak lagi bicara versi dan aliran... kemungkinan besar dosa adalah kelaknatan manusia terhadap sesamanya...
Rabu, 19 Juni 2013
Grand Design 23,5 Derajat Tuhan
B: hem... (dia hanya menggelengkan kepala tanpa jawaban)
A: karena sekecil apapun angka itu akan menjadi perhitungan alam semesta terhadap semua Fenomena didunia.
B: seperti hidup yang padahal bukan milik kita?
A: seperti 21 desember saat matahari membuat siang hari begitu panjang diselatan. dan bergantian ditanggal 21 juni dengan kutub utara.
A: hem... (berkali-kali dia mengeluarkan suara yang sama)
B: itu adalah grand design-Nya
A: Apakah semua yang didunia ini juga bagian dari grand design itu?
B: Tentu. kadang kita tidak akan tahu tanpa mencerna dan jeli terhadap yang ada dan alam ini perlihatkan. yang pancaindera rasakan.
A: bahkan ketika hujan turun tanpa bisa diramal?
B: semuanya...
A: iya semuanya...
(semua yang Tuhan tunjukan lewat setiap fenomena alam semesta, termasuk hati kamu yang tanpa bisa tau perasaanku. grand design Tuhan membuat semuanya menjadi terbuka. bahwa segala sesuatu dialam ini bukan terjadi atas hukum rimba. lalu kemanakah pancaindera yang kamu fungsikan untuk merasakan apa yang kamu bilang barusan??? untuk mengenali hatiku saja kamu tidak mampu. apakah Tuhan mendesignnya agar mati rasa??? atau kamu kurang jeli dan peka???).
akhirnya A pergi tanpa mampu bertanya lagi... B masih mencari kenampakaan yang alam semesta sembunyikan. sementara urat-urat takdir terputus begitu saja.
*mencoba menulis sisi lain manusia dengan alam semesta.
dan initinya apa ini???? hahaha...
Jumat, 10 Mei 2013
OBROLAN
INSOMNIA PALING KURANG AJAR
Rabu, 08 Mei 2013
PROSA 21
tentang sebuah anggapan yang luar biasa tak bersebab akibat di alam raya...
begitu cinta diterangkan menjadi aksara pengalaman yang paling dasar diraba manusia...
memberi peluang bentuk lain dari perasaan bereaksi dalam sel-sel otak yang juga membara...
kini aku dengan ribuan manusia yang sama mengembara, harus pula mengakui tentang waktu yang berjalan kedepan memberi angka dalam usia... memberi kesempatan bagi yang baru dan muda...
kini aku menyadari kebangkaanku... semacam kerak dasar samudera dan benua yang membentuk batuan baru, mengandung mineral yang entah sampai kapan akan bertahan dalam kerakusan otak-otak sebangsaku "manusia"
akh,,, teralu panjang berprosa... diusia ku yang dua satu... semoga aku tidak berada dalam kematian yang menjijikan didunia...!!!
Jumat, 19 April 2013
BOSAN DIKEBIRI ALIRAN
Kita yang muda, kita yang berambisi tinggi pada semua, pada perubahan yang harus sejalan dengan keinginan tanpa pula menghiraukan kesesuaian, menjejali pemaksaan dengan sistem paling mutahir masa kini, mengadopsi sektarian dari berbagai negara dibelahan dunia, rusia, amerika, juga prancis, atau juga budaya lokal sendiri yang diperbaharui jadi sedikit inovatif.
Kita yang merasa muda, pernah juga membuat sejarah tak melupa, mecatat setiap kenyataan jadi kebenaran yang paripurna, merasuki alam maya yang menumbuhkan kaliandra disetiap lahan baru dizamannya, mengukur debit air permukaan disetiap celah kucuran keringat pemangsa... Pendobrak... Dan mengaku perubah tatanan dunia...
Mempelajari skema perang gerilya para tua yang merdeka, pengubah negara yang bangka, memupuk jiwa anarkis disetiap sudut keegoisan yang juga murka, penyakit muda penyakit gangguan saraf yang tertekan oleh usia...
Bosan, dikemudikan para mereka yang bangka, sempat membakar urat magnesium mereka yang juga mengaku pernah muda, hanya saja kita tidak sekejam zaman mereka yang dikuliti rezim yang purba.
Kapan kita mengembala yang tua? Mungkin tidak akan pernah ada hal semacam itu, karena kita tak lebihnya mengadovsi budaya binatang, yang tua yang selalu jadi terkuat dan jadi pemimpin kawanan, yang tua yang selalu mengawini para wanita perawan, yang muda hanya diam mengikuti jejak pemimpin kawanan. Namun satu hal yang kita pertahankan dari zaman keemasan para pemimpin kebanyakan, "yang tua yang banyak pengalaman" pengkebiran itu merasuki sebagian pemikiran muda, kaum intelek menjadi sangat kerdil dibuat sistem zaman penjajahan.
Feodalis ala pendudukan, dimana manusia - manusia selalu merasa terhina hilang kebebasan. Atau strata pencapaian yang harus dirangkaki oleh ratusan rodi sepanjang pembuatan jalan atau juga Serangan romusa membuat kemenangan musuhnya oleh bala tentara buatan.
Tidak akan pernah usai memperbincangkan, hanya saja kita harus mulai mengakali kebosanan para pendengar, atau malah kita sendiri yang harus segera lari dari kebosanan yang diperbanyak oleh akar-akar hitungan. Perkalian, pertambahan, sementara pengurangan hanya dibuat untuk kita mengoreksi kesalahan menghitung kelebihan.
Kamis, 18 April 2013
BUDAYA SANG MUDA
sekali tegukan manis, semeriwing rasa dingin menjalar ke otak kanan dan kiri...
bergaya para pejabat yang menikmati "coffee break" selepas rapat besar menguras keringat... meresapi udara liar yang menggigit kulit-kulit kasar para penantang perang moral...
mari uraikan satu per satu amunisi yang lantas dijadikan alat untuk menyerang, membabi buta tapi kadang punya strategi sendiri untuk menang, sekali kibarkan bendera merah maka sekali lagi kita perang bukan untuk menyerah dan pasrah...!!!