Disini, kita hanya perlu mencari sugesti... Sebab ambisi hanya akan mengalahkan kita sekali jadi. Pada rumput-rumput berduri, pohon-pohon bunga abadi menjulang tinggi, serta luasnya bayangan hujan membentuk daratannya sendiri. Kita gunakan kehendak bebas untuk berbagi nafas dengan suhu dingin serta terik matahari yang tidak disadari. Membuli kulit, menampar-nampar pipi, membuatnya terbakar tanpa disadari. Yang kita perlu hanya sugesti bukan ambisi, sebab ambisi hanya akan membuat kota mati. Sebab alam bukan untuk ditaklukan, kita hanya meminjam sebagian energinya untuk bisa menyatu sampai pada titik dimana kita yakin bahwa itu adalah pilar tertinggi. Mengukur puncak dengan ujung jari...
Senin, 13 Oktober 2014
BODOH
Hidup ini penuh dengan cocoklogi. Tapi bodohnya kita percaya begitu saja. Karena kebodohan adalah kebenaran saat manusia tak punya alasan menghakimi ilmu pengetahuan...
Kamis, 16 Januari 2014
POLA
Tidakah kita inginkan penasaran dibayar dengan kejelasan?.
Tidakah kita yang diam sebenarnya menguntai tali perasaan?.
Sebenarnya kita telah mendapati Tuhan memberi pertanda pada yang mengingat pola alam semesta.
Jumat, 22 November 2013
Persepsi pendakian terhadap alam yang diam (catatan seorang pendaki amatiran)
Jadi banyak orang yang melakukan pendakian... semakin besar pula kontribusi perusakan... Apalagi pendakian yang tidak didasari kesadaran akan lingkungan... makin banyak sampah berserakan... Hampir disemua tempat yang pernah saya kunjungi. Alam rimba kehilangan keasriannya... plastik warna warni tercecer menjadi jalur perjalanan Semacam cagar alam pulau sempu yg ditiap si2 pantainya gunukan sampah pengunjung dibiarkan. Monyet-monyet kelaparan mncri makanan smpah berantakan Semacam gunung-gunung yang tiap minggunya mendapat pengunjung ribuan... membuka jalur, mematahkan dahan membuang pembalut di semak-semak pepohonan Semacam pantai yang dalam pasirnya terdapat botol2 minuman. Plastik-plastik makanan. Dan di sela-sela karang dan bebatuan sedal dan pakaian... Kesadaran akan lingkungan memang selalu menjadi alasan bagi para mereka penikmat hutan. Mereka ingin semakin dekat dengan Tuhan. Satu hal yang tidak pernah kita sadari. Yaitu tentang ketidaksadaran itu sendiri. Kontribusi yang nampak seperti ilusi. Seperti determinis dan possiblis... teori pemahaman manusia terhadap alam. Seperti itu pula manusia beralasan. Mereka dan juga saya akan tetap beralasan, bahwa pendakian asal didasari kesadaran terhadap lingkungan. Itu dibenarkan. Banyaknya pendakian pemula atau mereka yang sekedar penasaran semakin meningkat jumlahnya. Itu bisa jadi akibat dari perubahan sosial Bisa jadi trend para wisatawan luar yang dtg keindonesia. Bisa pula pengaruh industri pariwisata. Bisa karena kebosanan terhadap kota. Ya bisa-bisa saja... karena sesuai teori respon sendiri. Persepsi, sikap, kemudian perilaku... dan sudah tidak aneh jika sikap tak sesuai perilaku. Pada dsrnya kita manusia selalu punya peran yg lebih daripada yang diam. Seperti alam. Kita didasari persepsi untuk selanjutnya melakukan tindakan. Itu manusia. Semua manusia seperti itu. Semua dimulai dari persepsi kita terhadap suatu objek. Dan alam adalah objek. Kita tidak bisa menyalahkan kemanusiawian kita. Biar bagaimanapun didunia manusia selalu lebih punya peran. Dan alam adalah kajian. Penasaran adalah cara mendapatkan jawaban. Tindakan adalah cara kita menentukan keyakinan. Mungkin Saya juga menyadari sebagai yang memiliki peran. Sebagai salah satu korban rasa penasaran. Yang menjawabnya dengan tindakan (pendakian) Pernah saya berfikir bahwa semakin banyak kita membawa org melakukan pendakian. Kita juga berkontribusi besar terhadap kerusakan. Tapi sekali lagi, kita manusia lebih punya peran menentukan. Kita punya alasan. Kita punya motif melakukan tindakan. Terhadap lingkungan kita hanya bisa berpresepsi, bersikap, tapi tidak berpartisipasi. Kita hanya manusia. Itu saja.
Begitulah tulisan tentang persepsi, sikap saya terhadap sesuatu. Semoga dari tulisan ini pembaca bisa menyimpulkan. Karena sesuai dengan presepsi itu sendiri adalah hasil dari penggunan panca indra. Saya melihat, saya merasakan. Setiap kita punya pandangan. Hasil dari pemahaman. Hasil kerja panca indra. Kita memang tidak bisa menghindari ketidaksadaran. Karena kita selalu beralasan sebagai yg lebih punya peran (sudut pandang manusia). Itulah yang tidak membuat saya berhenti melakukan pendakian, perjalanan, menerobos hutan-hutan. Karena saya berperan. Saya manusia. Alam hanya diam. Semacam bentuk keegosian bukan? Itu masalah tersendiri yang tidak bisa saya lawan. Sejauh ini saya hanya berupaya taat pada aturan.
Kamis, 14 November 2013
Tanpa Judul
Selasa, 01 Oktober 2013
Kartu AS, Sejarah yang Kandas
Sajak malam tangisan para preman jalan dan kaum urban yang menindas gelandangan... Nyanyian para pengamen dan jeritan monyet di stopan...merangkul setiap irama mesin-mesin panas yang diistirahatkan. Terpaksa sekedar lari dari kejaran para tilang peraturan.
Belum pantas dikatakan kesadaran. Sebab kesadaran tercipta dari titik pertemuan jantung dan hati. Didalamnya dia dihubungkan dengan perangkat atas dalam sebuah batok keras. Bernama akal pikiran. Suatu yang khas dari manusia yang cerdas.
Dari dalam batok yang keras pula hinggap jamur-jamur ganas. Mereka terkenal diberbagai daratan didunia. Bahkan menamainya sebagai hasil pikiran dari otak yang paling cerdas. Kebudayaan dari zaman yang sudah kandas. Dari zaman emas. Zaman yang sampai saat ini masih menjadi sejarah-sejarah tak diketahui bangsa ras.
Jumat, 20 September 2013
HABLUM MINANNAS
Ada sebagian hati yang mulai terjengkali. Dan setiap perjalanan adalah dambaan sebagai sebuah utusan yang siap bertempur di medan peperangan...
Kita mengakali dosa dan membentangkan kain dari maha raja yang tak satu setanpun mencoba mencari kesalahan untuk kemenangannya.
Sekali kita berkata tentang arti kekejaman.... Maka semua kekuatan akan mencoba memasang keperkasaan....
Sementara pada pertalian dua insan yang dikremasi oleh leluhur sebangsanya... kini kita jumpai sebatas kehawatiran yang memuncak diatasnya...
Sekalipun kita tidak pernah bertanya apakah ada sebuah kekuatan diluar dugaan?...
Dosa akan terus berharap berenkarnasi dipedupaan...
Terlalu banyak otak yang diasah semakin tumpul pada kepekaan... dan semakin menjauh dari arti kemanusiaan...
Sementara ancaman depopulasi memuncak dipermukaan... kita saksikan penderitaan... atas penobataan..
kita menjelma Menjadi udang rebus kemerahan...
Akh... fantasi luar biasa ini makin muncrat diselingi bau amis darah bercucuran... Tidak lagi bicara versi dan aliran... kemungkinan besar dosa adalah kelaknatan manusia terhadap sesamanya...