Senin, 05 Maret 2012

KARENA KETANGGUHAN WANITA BUKAN ATAS IA BICARA


ilustrasi
Perdebatan itu dimulai di siang saat mata kanan dan kiri ku berada jauh di alam yang memberi lamunan. Mungkin dari sebuah mimpi yang tak terselesaikan tadi malam, atau malam sebelumnya.
Perdebatan tentang wanita. Yah… wanita… peran wanita di zaman peradabannya.

Berawal dari sebuah ajakan tentang derai perbincangan yang akan dilakukannya untuk perubahan. Rasa-rasanya dapat ku tangkap maksud dan tujuannya mengadakan audiensi itu.
“mau apa tah??  Bukan bayar listrik kan??” jawabku dengan perkiraan yang disadarkan sesosok aktivis yang kutahu porsi pergolakannya dengan masalah.

“mau audiensi terkait sering terjadinya pemadaman listrik didaerah-daerah banten” jawabnya dengan tulisan yang salah dibeberapa huruf yang digunakan. Namun ketikannya tak macam anak ABG zaman sekarang dengan kata lain penuh singkatan.

“oke,, siippp” tulisku dengan sangat singkat. Namun tidak menghilangkan singkatnya pemikiranku tentang hal yang demikian.

Dia meneruskan…. “serta ketersediaan PJU yang tidak tepat guna dan tanpa ada pemeliharaan” lebih jauh dia memaparkan dan menerangkan semua perencanannya (willing, kalo katanya mah)… dan dari bawah kalimat itu terselip dibagian akhirnya “mau ikut ga….” Tulisnya tanpa tanda tanya…

Wajahku meraba kebingungan saat tulisan demi tulisan yang berhasil ia ketik dan dikirimkan padaku… memaksaku berpikir lebih ganas. Melebihi pemikiran para Profesor yang helain rambutnya terlucuti kepenatan. Ya… mungkin kepenatan akan permasalahan yang hendak dipecahkan.

Aku hanya berupaya menyimak kasus yang akan digelar dalam perbincangannya. Dari arah pandanganku, mulai menerangkan hal yang belum tentu dirinya menempatkan posisi dalam ketahuanya. Tentang “ramah lingkungan” setidaknya itu yang aku pahami dari perkataan narasumber saat liputan terkait dengan pemadaman listrik yang dilakukan di kawasan perkuliahanku saat ini.

Dia tak menjawab pernyataanku yang masih dalam penerawangan.  Hanya bentuk tertawaan yang aku tak tahu kemana arahnya. Mungkin pernyataanku tentang hal yang tidak dimengertinya, atau kepasifanku dengan perihal yang dipaparkan dan direncanakannya. Aku masih berda dalam batasku sebagai pemimpi…
Kembali ia meneruskan, setelah berapa pesan isinya hanya tertawaan…

“sayang ga ada satu perempuan yang berani di ajak” tuturnya memaksaku berpikir lebih ganas kembali.
“untuk????” jawabku singkat penuh duga sangka…

“ikut bicara di audiensi nanti….” Masih dengan tulisan yang jauh dari perkataan alay anak zaman sekarang… tidak ada singkatan dan mencirikan orang yang telah paham atas keadaan “perlebayan”.

“boleh…. Itung-itung cari efek” jawabku dengan sedikit bermain kata dalam penulisannya. Efek disini dimaksudkan untuk mencari keringananku dalam menyatakan pikiran. Karena sebelumnya aku pernah beberapa kali mengikuti audinesi dengan pihak di kawasan perkuliahanku. Hanya saja masih dalam bayang singa besar yang memposisikan diriku menjadi tikus kecil bersuara mencicit. 

“hmmm…. (dengan karakter orang mikir kebingungan). Efek gitar ya neng” lanjutnya membuatku bingung tak kujawab.. meski aku tahu efek yang dimaksud dia itu. Ya…. Sering dikatakan oleh anak-anak band zaman sekarang.

“ingin disamakan apa???” jawabku kebingungan dengan pernyataan sebelumnya.
“efek rumah kaca” jawabku dengan sedikit mengkerutkan dahi.

Masih dengan udara panas yang membuat badanku berkeringat… mungkin efek belum mandi kali yah….!!! Hahhhahaha… (tertawaanku bukan untuk ditiru, begitupun kelakuanku).

“atau memang sukanya Cuma bikini aku kopi dan susu atau menyediakan saudara laki-lakinya makan siang” tulisnya kali ini dengan sedikit singkatan dibeberapa kata.
Kembali kukerutkan dahiku yang hitam tak Nampak sama dengan keseluruhan wajahku. (belang singkatnya). Kupikirkan pernyataanya, karena kau merasa tak demikian. Menyuruh makan pada saudara-saudaraku yang telah beristri itupun aku tak pernah. (pikirku dalam kenyataan, dan tertawa dalam kegilaanku).

“saya rasa kartini tidak menyebutkan wanita harus dipasifkan seorang lelaki. Trlepas dari kodrat wanita itu sendiri. saya rasa bukan kaum lelaki saja yang bisa membuat perubahan.” Jawabku dengan sedikit tantangan di wajah dan geraman pada pita suara yang tak enak didengar… (hahahhahah….).
Lama jawaban itu datang, setelah akhirnya dua pesan yang saya alamatkan seolah menunggu jawaban berhasil terkirim.

“tapi faktanya hese ngajak awewe tehnya….bilangnya sih emansipasi atau kesetaraan gender, tapi diajak bicara…..” tak diteruskan, seolah masih meraba akhir kesimpulan yang membuatku semakin mamasang wajah kebingungan. (naon sih maksudna,,,,,, jiahahhah).

Udara makin membuatku kepanasan, jauh lebih panas dari sekedar berkeringat. Geraman dari wajah yang mengerutkan dahi setengah mati membuatku menuai pergolakan dengan serangkaian pertanyaan. Pertanyaan yang tak jelas apa maskudnya.

“hem…. Dengan kata lain anda menyebutkan ‘semua wanita sama???’. Saya rasa masih ada sebagian wanita yang melepaskan diri dari statement itu…” mencoba meyakinkan kalau aku tak senang dengan pernyataanya…

Dari percakapan yang terpotong dari tulisannya, kudapatkan pesan demi pesan saling menyusul membuatku kebingungan membacanya. (sebenarnya aku tak bingung dengan segala pernyataannya, hanya saja masih tidak mengerti dengan maksudnya).

“hmmm… (kembali dengan karakter orang yang kebingungan)… malah bilang ‘aku kan perempuan’”. 
Seolah ada fakta yang memang menyereku percaya dengan perkataanya. Karena bukan tidak tahu banyak kutemukan hal semacam itu. Namun segmentasinya beda, tidak  hanya wanita yang merengek demikian… “akh, sudahlah… ngapain hal kaya gitu dipikirkan”. Dalam hal ini sebenarnya kasusnya sama. Dan dipertegas dengan perkataan, “tugas kalian sekarang hanya belajar” setidaknya itu yang pernah aku dengar. Lantas dari semua perkataan yang berhasil aku dengar mungkinkah kesimpulanku sama halnya dengan perkataan lelaki yang mengajakku bicara dalam agenda audinesinya??? (tanyaku memasang wajah garang, betapapun senyuman tetap kuguratkan).

Selebihnya dia hanya menyertakan kegombalannya yang kupikir sebuah bentuk penggodaan padaku. Meski kurang jelas maksudnya berkata demikian. Hanya saja aku tahu tak mudah untuk tersenyum dengan perkataan demikian.

Seolah aku tak pedulikan perkataanya yang menggoda, kutuliskan pergolakanku dengan pertanyaan dan kebisingan seluruh kaumku yang merasa dikucilkan. Dan satu persatu kata memaksaku menuliskan kalimat perdebatan….

“hem… (gayaku setiap kali memulai tulisan) memang wajar wanita menyebutkan demikian karena dia disadarkan kodratnya. Tapi bukan kah zaman akan berubah dan perubahan ada pada setiap yang merubahnya??. Mereka yang bilang wanita tak bisa apa-apa sebenarnya mereka yang tak tahu perkembangan zaman, atau mungkin wanita itu sendiri yang masih terkurung dengan kodratnya di masa lampau. Saya rasa saya tak demikian, sedikitnya saya mampu sejajar dengan kaum lawan saya…”

Pernyataan itu berderet memaksaku menyertakan kebisinganku dengan pernyataan yang di ucapkan. Meski memang kenyataannya pernyataan yang terlantun dari dirinya mampu membuatku sedikitnya membenarkan keadaan. Tapi aku masih merasa berada sama dalam kerumunan kaumku. Yah… wanita… kaum wanita…. Kaum yang kata zaman masih berada dalam keterpurukan.

Kembali saya teruskan dengan wajah geram namun masih memasang senyuman….
“saya rasa yang berstatment “wanita semuanya sama” adalah lelaki yang tak paham perkembangan zamannya,… hahhahah… (tertawa sinis) atau dia menutup mata terhadap perkembangan zamannya….” Seakan posisiku berada dalam garda terdepan kaumku sendiri dan wajah yang memasang genggaman geram kesakitan…. (terlalu berlebihan memang bahasaku).

Satu persatu perkataan yang berhasil aku kirim dan terbaca olehnya… satu persatu pula balasan itu datang, kali ini datang dengan keroyokan. Isinya tak begitu menanggapi perkataanku yang geram karena kaumku diperkucilkan.

“ammmmiiinnnn, ya robal alamin” tulisnya dalam bahasa arab.
“bukan zaman yang merubahnya menjadi sama/sederajat. Tapi tuhan dan alam telah menjanjikannya” tak mengerti maksudnya apa… kedangkalan otakku tentang Tuhan dan segala manifestasinya membuat ku harus tak menghiraukan pernyataanya.

“sayang terkadang lakob perempuan selalu saja dijadikan alasan untuk berbuat” hem… kali ini aku berada jauh dalam kebingunganku sendiri. keganasanku hilang, mengeruh dan tak tahu kemana lagi membuat persimpangan baru. Aku kebingungan sendiri di kamar yang tak kuinginkan ukurannya.

Bukan karena aku kalah sehingga menyadari keadaan yang membuat lemah… singkatnya lemah bukan berate kalah. Setidaknya itu yang pahami dari usiaku yang sudah semakin dibebankan dengan pikiran-pikiran berat wajah kehidupan. (Daramatisnya… hehhehe).

“memang saat ini saya akui anda jauh lebih hebat dari saya, tapi bukan karena saya sebagai wanita…. Dan bukan berarti wanita tidak bisa melebihi anda….” Ucapku lantang jikalau orang itu berada langsung dihadapan, dengan wajah geram terpatri senyuman.. kupasang telunjukku pada wajahnya yang belumku bayangkan.

Seolah tak menghiraukan… dia yang ku tahu berada jauh si sebrang telepoku saat ini aku berada. Lantas dengan singkatnya dia berkata….
“perempuan ‘natur’”. Dengan beberapa pengirimian ulang setelah memperbaiki bebrapa huruf dalam kata yang dituliskannya.

Masih dengan pergolakan dalam perdebataan, dimana aku masih berada di depan kaumku memasang wajah garang dalam genggaman. Dan seorang yang berkiblat pada fakta yang ditemukannya. Aku mulai mengoceh kembali dengan kata-kata yang kupasang sebagai senjata…..
“selalu ada wanita yang hebat dibelakang lelaki yang hebat,” kali ini singkat memang aku berkata.
“aku tak bermaksud padamu… mereka yang disekitarku yang membuat statement itu lahir,”
jawabnya dalam tulisan.

Perdebatan mulai merongrongku, kali ini pada pemikiranku tentang satu hal…. Apakah benar kaumku begitu dikucilkan karena memang tak mampu berada alam keuasaan, ketangguhannya melawan kekuasaan, kemampuanya menyelesaikan masalah…??? Kali ini aku kalah berfikir dari kebanyakan… yah… kebanyakan wanita-wanita tangguh yang tidak bisa bicara dalam kekuasaan, dalam perdebatan, dalam penyelesaian konfilik dengan pemangku jabatan… dan… bnayak lagi yang lainnya yang aku rasa akupun tak paham tantang ketangguhan seorang wanita meski ia tak bicara.

Dalam hati aku berpikir bahwa ‘ketangguhan wanita bukan atas ia bicara’
Lupakan sebenatar tentang statement yang ku katakana diatas….
Aktivis lelaki itu, kemudian meneruskan perkataanku seolah dia menyetujuinya dan kembali harapnya tuliskan dibagian akhir perkataanku yang ia tuliskan pula. “ammmiinn, ya ribal alamin…” dalam tulisan bahasa arab dia mengamini.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. (bagian geje yang aku tak paham). Soal siapa yang mencetuskan perkataan bahwa “wanita semua sama”
Dan kali ini aku meyakinkan, bahwa aku masih punya Tuhan… dan kukatakan:
“semoga…. Meski terkadang aoa yang diharapkan jauh melenceng dari harapan. Akan selalu ada tangan Tuhan berkata lain untuk sebuh perubahan yang diinginkan,” aku hanya mencoba memberikan pernyataan lewat perkataan abstrak yang tak dapat dipahami secara instan. Tapi aku yakin dia akan jauh lebih paham dari sekedar pemahaman dia tentang suatu hal.

Kembali pergolakanku dengan pikiran yang menguratkan tanda tanya besar… seberanya apa yang dia pahami tentang wanita??. Wanita kebanyakankah??? Wanita yang dibedakan dalam pemahamannya?? Atau…. Terlalu banyak dugaan….

Naluri saya sebagai kaum yang dikucilkan zaman pun berkata-kata layaknya orang yang kehilangan kepercayaan karena sebuah statement.
“pernyataan saya tentang wanita dan lain sebagainya, mungkin bukan ada pada saya. Setidak-tidaknya saya telah berusaha bertahap untuk perubahan yang diinginkan. Masih banyak wanita yang mengagumkan… saya rasa anda lebih tahu, hanya sekedar menyamakan dengan wanita kebanyakan yang telah melahirkan statement demikian,” dan ku akhiri dengan “semangat untuk pencariannya”  tentunya dengan karekter yang memasang senyum dalam monitor dalam genggaman.

Kembali dia tak pedulikan perkataanku… hanya berkata layaknya sang pujangga zaman pergerakan
“aku manusia jalang”

Tak mengerti maksudnya apa… kembali kubermain dengan kata-kataku yang menuai keabstarakan….
“sejalang rupa dunia yang berdusta pada kekuasaan???
Atau kekuasaan yang berupa jalang pada keadaan???
Akh, tak sejalang aku yang sudah bosan hidup tanpa perubahan yang dilakukan….”
Dan dia kembali berkata singkat layaknya manusia yang bosan dengan ocehan….satu persatu perkataan melejit dari bibir di wajahnya yang masih tak kubayangkan.
Begitupun aku… masih berupaya melawan dengan keabstarakan….
“dan beribu menyamakan kaumku dari masa lampau dengan keterpurukan…”

Dan kuteruskan…. Kembali…..

“hem… saya rasa inilah yang kami temukan dari lawan kaumku yang berambisi keras pada pemahamannya… betapapun itu kami kencangkan urat-urat dari kehidupan liar yang akan lebih liar dari sekedar betatapan dengan kejalangan rupa kekuasaan”

Setidak-tidaknya itu yang aku pahami dari perdebatan yang melehkan kaum sebangsaku… kaum yang dikucilkan zamannya..yang katanya masih dalam keterpurukan.

Bahwa sulit memang jika pemahaman diiringi keinginan… akan sulit memahami sebuah tindakan yang belum diketahui ada sebuah nilai yang mampu disamakan dari hanya sekedar bicara. Karena menurutku “ketangguhan wanita bukan atas ia bicara”.

“……………………………..” masih berupaya menggoda…. Tapi betapapun aku tak tinggalkan percakapan, masih kuteruskan keabstrakanku dalam lantunan perkataan.
“statement itu saya rsa buah peringatan keterpurukan wanita sekarang dengan peradabannya…dan kali ini saya rasa rupa kejalangan itu bisa tertaklukan dengan kedipan wanita-wanita yang dangkal pemahaman. Hahahhahha …. (tertawa dalam kegilaan) bahkan tirani kejalanganya hancur berantakan…”

Ini pernyataan yang ku tahu dari pemaparan seorang lelaki yang kalah perasaan dengan hanya sekedar wanita yang belum tentu banyak pemahaman dan banyak perkataan.
Dan akhirnya sebuah pertanyaan kulontarkan… ketegasan dari keabstarakanku membuat dari perkataan yang sebelumnya.

“paham dengan apa yang aku tuliskan??? Jadi wanita kebanyakan yang anda anggap…akan jauh lebih hebat menguasai dunia pada rupa kejalangan tiraninya?”
Dan kembail dia menggoda…. Kali ini dengan kata-katanya yang membuatku membayangkan rupa wajahnya…

“dan aku, aku berbisik padanya…kemarilah, sirami aku dengan air dingin di tanganmu… banjur dan usaplah mukaku… agar aku bisa tersenyum lebar”
Kali ini aku tergoda… senyumku melebar dan kemudian tertawa. Bahasanya yang berantakan, dan terselip kata “banjur” membuatku memasang wajah ringanku dan sebenatr terlepas dari radangan. (hahahhaha… terakhir ku tuliskan masih aku tersenyum lebar kawan…. Keinginanku demikian bukan???)

“akh, terlalu kasar bila demikian…” ucapku masih dalam tawa yang meraung…. Jiahahhahhhahaha
“tak perlu kepintaraan, buaian, atau segala yang ada dalam permukaan kejelasannya sebagai wanita yang dianggunkan pandangan. Lebih dari satu hal yang Tuhan ciptakan… untuk kaum yang kata zaman berada dalam keterpurukan bandingannya dengan lawan kaumnya”

Kuteruskan keabstarakanku dalam perkataan…. Dia masih tetap saja menggoda…. Dan aku masih tetap dalam perdebatan yang mengatasnamakan kaumku….
Hingga terakhir pesan itu masih tergantung tak punya jawaban…

“tahukah sekarang ini wajah penuh kerutan yang aku pasang??? Hahahhah… hal itupuu aku tunjukan pada kaumku… kaum yang kata zaman berada dalam keterpurukan”.

Atas semua perdebatan ini, aku mulai sadar bahwa wanita masih berada jauh dizamannya… setidaknya dari statement “wanita semua sama” yang seolah menjelaskan wanita tak bisa bicara, karena bicara adalah upaya membuat perubahan.

Pernahkah berbikir, dari mana seorang lelaki yang terlihat begitu hebat saat bicara dan mampu merubah dunia Dengan perkataanya…saya rasa bagi yang mengagumi sosok ibu dia kan lebih paham bagaimana wanita itu lemah dalam bicara, tapi mampu meraba semuanya. Semua kekasaran hidup, semuanya yang tidak selalu ia bicarakan dalam masalahnya. Karena “KARENA KETANGGUHAN WANITA BUKAN ATAS IA BICARA”.

Semoga dari perdebatan itu akhirnya saya dan semua kaum saya dan siapa saja yang masih menganggap “wanita semua sama, tidak bisa bicara untuk perubahan” bisa memahami lebih jauh kenapa Tuhan mencipatakan Wanita demikian. Karena Tuhan menciptakan Ketangguhan yang yang jauh lebih penting dari sekedar “wanita yang diam tak bicara untuk perubahan”.
Tuhan memporsikan semuanya seimbang dan beriringan…
Tuhan tahu bagaimana semuanya harus berjalan bersamaan…
Dan terlepas dari kodrat yang tuhan telah tentukan, selalu ada kata untuk perawanan…
Begitupun wanita… akan banyak wanita yang bertahan untuk menopang manusia baru membuat perubahan dan bicara lantang pada keadaan.
Adapula wanita yang berontak bicara memasang kekuatan untuk perubahan…
Semuanya saling mengisi… semuanya beriringan….!!!

Karena masih ada hal terpenting dari wanita yang memilih untuk bertahan, menciptakan manusia berjiwa besar dan mampu membuat perubahan….!!!!

Ty_poems (kamar kosan dalam derai perdebatan… #5_03_12)



Senin, 13 Februari 2012

Sisa


(teruntuk wantia berinisial “S”)

Ilustrasi: google
Memang tidak enak rasanya menjadi sisa,
Atau menikmati sisa…
Karena sisa adalah penistaan…
Bekas penjajakan…
Pun pelampiasan…

Aku rasai kau yang dianggap sisa…
Sisa sepengenalanku dengan keterbatasan menikamti sisa mu pula…
Karena sisia adalah penistaan..
Bekas penjajakan..
Pun pelampiasan…

Ku kenali kau sebagai sisa…
Sisa kekacauan yang dilemahkan keperkasaan…
Karena sisa adalah penistaan…
Bekas penjajakan…
Pun pelampiasan…

Aku benar mengerti kau sebagai sisa
Sisa yang berserakan yang kapanpun bisa dipunguti
Karena haus kebutuhan
Atau memang kau benar-benar sisa yang dirubah sedemikian menakjubkan…
Namun waktu tak mengenalmu sebagai sisa…
Karena sisa adalah pembuangan….

Kamis, 09 Februari 2012

Akumulasi semua rasa bernama CINTA

Merupakan kata-kata yang sering di ucapakan untuk menamai masalah rasa yang satu ini... "Cinta" yah, Cinta.

sumber Image: Google
Terinspirasi dari kata-kata mas Pramoedya Ananta Tour dalam bukunya "Bumi Manusia" yang diterangkan oleh Jeans Maramis bahwa "Cinta itu indah..., juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya, orang harus berani menghadapi akibatnya". kata-kata itu seolah menyadarkanku tentang satu hal yang Tuhan berikan sebagai penguat dan perapuh manusia. Bahwa cinta demikian menjadi sebuah kekuatan yang mampu melatari berbagai keadaan manusia. Menjadi candu kebaikan ataupun keburukan yang mengubah keadaan dalam diri manusia. 

Tidak mudah memang menuliskan sesuatu atas dasar perasaan, terlalu rumit jika semua masalah rasa itu kita hadirkan dalam bentuk tulisan... namun setiap orang tentu merasakan hal yang sama ketika di hadapakan pada masalah-masalah persaan. karena tuhan menakdirkan manusia itu sebagai mahluk perasa...!!!.

Kehadiran semua rasa ini bisa dalam bentuk apa saja dan pada siapa saja. Dengan mengenal dari apa yang ada dalam diri seseorang, apa pun itu yang lantas akan dikagumi dan menjadi hal yang di sukai.....!!!
atau karena keterikatan dan kebersamaan yang menjadikan semuanya sebuah ketergantungan... ketergantungan  yang akan menimbulkan masalah rasa baru yaitu "Sakit" saat binasa memusnahkan bentuk dari ketergatungan itu, atau kebiasaan dalam keberadaan seseorang tersebut. 

Cinta, akumulasi dari semua rasa yang dialami manusia. Cinta, Benci, Sakit, Simpati, dan lain sebagainya yang enggan saya sebutkan karena setiap orang sudah tentu dapat mengetahui dan merasakan bentuk-bentuk perasaan yang sudah dinamai manusia itu. 


oleh karenanya, Cinta begitu memiliki peran dalam hidup manusia, tidak bisa dipungiri memang bahwa semuanya di tunjukan oleh materi yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Hanya bentuk getaran yang teramat dasyat dirasakan, tidak peduli pada keadaan dan bagaimana likuk dan bentuk mahluk yang sudah diyakininya mengundang perasaannya maju mundur untuk mengenal dan jauh lebih dekat bahkan memilikinya  seperti benda yang ada. 

Mata tidak bisa membohongi pada apa yang tampak dengan jelas olehnya, pada bentukan-bentukan Tuhan yang maha Dasyat dan apapun itu yang mengindahkan ataupun tidak mengindahkan...
namun cinta belajar berakumulasi dengan semua bentuk rasa lain... termasuk mengajarkan bentuk Keikhlasan. 

Sederet tulisan apapun yang mencoba menerangkan dan meterjemahkan bentuk dan masalah rasa, tidak akan mampu secara detail dapat dijelaskan oleh kata. karena pada akhirnya kebinasaan akhir segala rasa cinta yang berkemelut memanjangkan deret hitung kadar ketulusan. Mau tidak mau, Keikhlasan berlaku adil pada perasaan.....

Ty_poems





Rabu, 08 Februari 2012

Pada siapa...???


detik ini, keadilan berjibaku dengan keadaan yang tidak surut dari pandangan...
mengalahkan bentuk kemanusiaan...
pada deretan undang-undang hukum keamanan...

semua berjibaku dengan masalah keamanan...
pada maling..

pada anak di jalanan...

pada sopir angkutan..

pada buruh kasar perkebunan...

pada gembel-gembel gelandangan...

pada keadilan yang mengatas namakan undang-undang peradilan....

pada semua yang bernama manusia...!!!

semua berjibaku dengan nafas-nafas kebebasan...
pada curhatan sang pemuka keadilan..

pada sang bapak di meja pemerintahan....

pada sang ratu di singgasana pemerintahan...

pada sang korup yang kurapan...

pada semua ketidakadilan di atas pendustaan perundang-undangan....

semua terlihat begitu bersemangat, 
pada pemangku keadilan yang berkeringat dingin ketahuan...

pada pelaku yang harap-harap cemas pada kebebasan...

pada santunan yang dianugerahkan banyak orang diluar gedung pemerintahan

lantas pada siapa semuanya di berikan...??????

#Ty_poems







Senin, 06 Februari 2012

Mencari Berkah dari Sisa Sesama


Bau menyengat, kumuh, menjijikan, dan sangat tidak mengenakan itulah kesan pertama yang saya rasakan saat menginjakan kaki di sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di kabupaten Subang, Jawa Barat. Ini kali pertama bulu tubuh saya di buat berdiri oleh bau yang maha dasyat dari gunukan sampah yang menumpuk membentuk gunung-gunung plastik. “Yah… terlihat sampah plastik mendominasi…!!!”. Hampir sesekali saya mencoba bernafas dan kembali menahannya, begitu seterusnya sampai kemudian saya merasakan mual dan pusing menyerang setelah sekian menit saya mencoba bertahan dengan keadaan itu. “Hmmm.. ternyata saya perlu adaptasi untuk menyesuaikannya”.

Beberapa pemulung yang mencari sisa dari tumpukan sampah
sumber: Ty_PHOTOgraphy
Potret itu jelas… mengabadikan setiap kedetailan barang-barang bawaan angkutan truk sampah pembuangan. Satu persatu tangan-tangan telaten mengorek-ngorek selayaknya mencari puing emas dalam tumpukan jerami (hehehe..). seolah itulah hal yang paling gampang untuk dikerjakan. Dan saya pun mencoba mendekat kembali, mencoba mengadaptasikan penciuman ini bagaikan mencium krisan yang baru mau mekar, “yah, tapi jelas itu dusta…!!! Hehe”. Saya dibuat heran oleh keadaan sekitar, dimana kebiasan menjelma menjadi hal yang tak terwajarkan. Orang-orang disana (pemulung) begitu akrab dengan hamparan dan gunung-gunung sisa pembuangan sesamanya atau bahkan dirinya. 

Dua anjing sedang mencari makan. sumber: Ty_PHOTOgraphy
Suasana nampak selayaknya pasar, dimana orang-orang sedang mencoba mencari barang yang dibutuhkan atau disukai dalam tumpukan barang lainnya. Jelas, interkasi pun membingkainya. Dimana semuanya tertata dalam sebuah potret yang meyakinkan saya bahwa inilah sebuah rutinitas kehidupan. Membentuk sebuah komuitas baru “komunitas persampahan”. Seakan memberi gambaran keadaan manusia-manusia konsumtif yang pada akhirnya membuat lahan yang cukup luas itu dijadikan akhir sisa pembuangannya yang tak berguna. Anjing, Burung, Lalat, dan beberapa serangga lainnya tak mau dipisahkan dari sebuah komunitas itu. terlihat tidak ada sebuah persaingan dalam merebutkan aya yang mereka saling temukan. Dan hanya berupaya untuk segera mengenyangkan perut-perut keroncongannya. 


Satu persatu truk berwarna kuning berdatangan seolah seperti angkutan penyuplay barang, yang mencoba mengisi kekosongan barang-barang kebutuhan sang pencari sisa. para mencari sisa pun tak mau kehilangan moment, mereka mengerumuni truk tersebut dengan alat panjang terbuat dari besi (gak tau namanya…) dan tentunya sebuah karung yang siap memasukan apa saya yang ditemukan.
“Semakin padat dunia oleh manusia, semakin luas pula ruang untuk menampung sisa pembuangannya. Tak bisa terurai dengan mudah, dengan hanya beberapa tahun saja”.




dari MATA SEORANG JELATA


Kali ini, dimana setiap detiknya adalah guncangan mental keasingan dalam kepribadian. Setiap alur perjalanan yang dihakimi oleh nasehat besar punya peran. Aku menggoreskan noda disekian pijakan yang mengukir keadaan. Dan kini aku terpuruk mengalahkan kesadaran.
Kesadaran tentang satu hal, yang pada dasarnya tidak bersemayam dalam jiwa. Melukiskan pemikiran-pemikiran yang melintas kemudian menjadi terjemahan dalam uraian kata-kata biasa. Lantas terbiasa dengan segalanya, pun coba luruskan semuanya namun tidak Nampak jua. Aku masih tetap berusaha meyakini segala yang ada dalam diri ini, sampai tiba waktu berdua aku bersama Tuhan dalam keadaan yang membahagiakan.

Hidup memang perjalanan mengadopsi alur dan peran yang di ciptakan tuhan. Mengawali dengan sebuah tangisan pertama saat angin dunia mulai menerpa raga mungil punya nyawa. seiring detakan jantung yang berdenyut dengan nadi disebelah kanan tangan, urat-urat keperkasaan diri yang liar menantang dunia luar, dengan kaki tangan yang masih sangat ringan menggenggam.
Hidup memang mengukir sejarah lewat umur yang bertambah, setiap detikan waktu yang mengalun dan meninggalkan kenangan yang terlewatkan bersama kejenuhan, kebahagian, kesedihan, keputusasaan, kemarahan, kekonyolan, dan masalah rasa yang lain demikian banyaknya dilimpahkan tuhan sebagai sifat manusia normal. Terus menerus bergantian bagaikan memusiman yang selalu bermanja dan berdebat dengan keadaan, dan terlepas satu persatu saat Nampak bunga-bunga bermekaran. Fase akhir semua masalah rasa yang di alami dalam kehidupan.

Dunia begitu cepat berubah, namun matahari dan segala yang disinarinya masih tetap begitu tidak berubah hanya saja sifat alamiah yang sudah semakin meronta-ronta pada keadaan. Bertambah tua, bertambah lapuk, bertambah kusam, rapuh, kemudian habis terkikis… dan punah sudah. Segala kenampakan dan kejelasan yang terlihat perlahan-lahan mulai hilang, musnah, entah kemana pergi dan berpindah pada kehidupan lainnya. Hanya segelumit pertanyaan tidak sepatutnya dibicarakan dalam perbincangan yang kemudian berdebat bersama masalah rasa di jiwa.

Detik ini, saat usia semakin meronta minta penjelasan pada jiwa, tentang pemberian dan karya terkemuka yang tercipta. Jiwa masih saja sulit menjawab pada keadaan dan pada waktu yang melintas terlalui. Sebongkah dasar masih saja belum terdapatkan, sementara kemajuan-kemajuan dari zaman terus-terusan menggrogoti masanya.

Dunia sudah hilang kendali, menghilangkan setiap ketidak wajaran di berbagai segi kehidupan menjadi hal yang sudah terbiasa dan diwajarkan. Seakan peradaban yang dulu termuliakan tidak menghilangkan sesuatu kesan apapun di masa sekarang. Masa di mana orang lebih unik menggarap keadaan, semakin banyak peran, semakin banyak argument, semakin banyak lelucon dalam pentas seni perpentasan.

Dari semuanya aku hanya diam dan kemudian berbisik minta penjelasan….!!!

pada setiap argument yang kutemukan, alasan dan alasan terus berdatangan mengundang seuntai perkataan yang terontar mesra mempertanyakan. Ternyata takdir memang selalu menghantamku untuk diam dan bejalan mengikutinya sesuai maunya.

Ini dunia, dan aku merayap menjadi piguran dalam setiap perkisahannya…..!!!
Menjadi kejelataan dari berbagai manusia di luaran…!!!
text-align: justify;

Bentukan MARIN Bisa menjadi SPOT cantik dalam “JEPRETAN”


Karang Taraje, ini adalah salah satu nama tempat wisata pantai di daerah Lebak Selatan, tepatnya di daerah Bayah. Tempat ini berada tidak jauh dari pantai Pelabuan Ratu, Jawa Barat dan akan di temukan jika terus melewati jalan sampai keperbatasan provinsi Banten. Pantai ini sendiri tidak jauh dari perbatasan tersebut. pantai dengan keunikan karang-karang disetiap garis pantainya akan terasa lebih indah saat ombak putihnya menimpa karang-karang hitam. Deburan ombaknya sangat terlihat jelas, putih dan
Gambar: Debur Ombak pada sisi karang
berbuih dengan BG (background) biru tajam, hal ini dikarenakan bersih air laut di pantai karang taraje masih begitu terjaga. Selain itu beberapa spot yang ada di dilukiskan dapat mengembalikan imajinasi untuk mengarahkan lensa kamera. Terlihat begitu eksotis……

Gambar: bentukan marin di tengah laut
Potensi marin di kawasan pantai karang taraje pun, dapat menjadi daftar spot dalam mengoleksi keindahan foto-foto landscape. Matahari tenggelam pun bisa di amati dengan sangat santai dalam bentukan morfologi alam berupa karang-karang besar yang curam ke tengah laut. Hmm…. Bisa dibayangkan. Menikmati sunset dengan tempat senyaman itu….
karang-karang yang menghadap langsung ke tengah laut
Gambar: karang-karang besar dan memanjang ke tengah laut

Saat senja tiba, ombak laut yang semula besar dan terlihat mengambuk menampar karang-karang dipinggrian pantai kembali jinak, dan moment yang paling indah saat air laut surut menegah… lagi, lagi BG yang cantik. Semua karang yang tersembunyi menampakan diri dan menjadi pembatas garis-garis pantai yang eksotis… akan banyak bentukan batuan marin disana. Hem,,, tentunya akan menjadi spot menempatkan model berekspresi.