Rabu, 31 Oktober 2012

KETIADAAN atau TIADA akhirnya MUSNAH juga


Dan pada mata tertutup aku menghela nafas yang kian meleburkan diriku dari ketiadaan yang kau cipatakan. Ketiadaan yang patut diyakini sebagai mahluk Tuhan.
Kemarau panjang dan musim penghujan yang bergiliran tanda adanya aturan yang dimainkan alam ini untuk menyambung kehidupan.

Adanya masa dimana zaman saling sambung menyambung membentuk peradaban. Kini dan lampau yang pernah ku jumpai dalam tata tulisan dibuku sejarah yang menceritakan proses hingga akhirnya ketiadaan.
Dunia ke-3 yang melaporkan seluruh kenampakan fenomena menyakitkan, tentang kelaparan yang datang kerap kali musim paceklik. Tentang kekurangan air yang tak mampu disimpan tanah untuk cadangan. Tentang air terjun yang jatuh atas sebuah patahan yang teramat panjang. Tentang musim dimana selalu berbeda antar kutub utara dan selatan. Tentang angin-angin yang selalu memberi kesan pada nelayan yang berlayar. Tentang badai yang Nampak indah jika tak menyisakan korban. Tentang semua yang berkata-kata di alam yang dia ciptakan.

Semuanya akan berproses dan kemudian mengulang kata ketiadaan dari semua penciptaan. Akh, Tuhan ku tak Nampak dalam perupaan yang ku bayangkan, namun tetap berdiri tegak dari sebuah keyakinan.
Tentang ayat-ayat yang jatuh untuk menegakan kebenaran, tentang hujan asam yang mungkin akan terjadi kelak saat bumi tak mampu menyeimbangkan. Tentang hutan-hutan yang berbicara pada pecundang atas penebangan liar. Tentang kayu gelondongan yang dihanyutkan ke sungai. Tentang mata dunia pertama yang berkeliaran. Akh, negeriku sudah porak poranda dan mungkin juga akan tiada.

Negeriku akan hanya tinggal cerita yang dibanggakan saat kita sudah jadi budak zaman. Zaman dimana hanya aku dan kaum sebangsaku berlinang air mata tentang kesakitan. Tentang liku hidup yang mencoba mengadopsi pada meander yang mengikuti arah patahan. Tentang gempa besar yang akhirnya membiarkan gelombang besar porak porandakan peradaban. Dan mungkin, semuanya akan tiada juga…!!!

Selasa, 30 Oktober 2012

Sederet tentang Manusia dan Cinta


Aku mencintaimu dengan cara biasa, Layaknya Manusia pada manusia... Maka dari itu aku begitu memanusiakanmu... Memanusiakan segala rasa yang dimiliki mansuia, tidak untuk jadi luar biasa tapi menjadi biasa atas nama rasa yang Tuhan cipta pada mahluk sebangsaku... Bernama "Manusia" 





Istilah Penghisapan atas manusia juga berlaku terhadap cinta. Terhadap org-org yang memuliakan cinta tapi dirinya mengingkari adanya kata setia. Terhadap mereka yang berupaya mengambil "gula" dari org-org yang menjunjung kata berlaku cinta. Dan menderita untuk mahluk bernama "manusia" 





Berbahagialah anda memiliki manusia dengan cinta yang biasa, yang diciptakan Tuhan sebagai pelengkap atas dasar kemanusiaan yang manusia... Manusia yang secara biasa berpikir untuk bertingkah biasa...!!! 


Rabu, 24 Oktober 2012

Patahan Lembang, Tanjung Layar dan Karang Hawu (Tugas MPG)

Foto-foto ini merupakan view permukaan bumi yang diambil dibeberapa tempat di Indonesia. Tempat-tempat ini tentunya menyajikan segala kenikmatan sang pencipta yang dibalut lewat keunikan morfologi serta karakteristik tempatnya masing-masing. Dan tentunya akan memberikan kesan yang berbeda.

Merupakan salah satu patahan yang masih aktif di jawa barat. Terlihat view cantik dari bawah dengan sebuah kolam besar tempat pemancingan ikan yang biasa warga jadikan untuk melepas penat. Ini merupakan salah satu bentukan morfologi alam yaitu kenaikan pada kerak bumi seperti apa yang dimaskudkan patahan itu sendiri.

Gambar: Patahan Lembang


Tanjung Layar, Merupakan salah satu bentukan marin yang terdapat di Pantai Sawarna, kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Banten. Berupa dua buah karang yang berada di tengah laut. 
Gambar : Tanjung Layar

Karang yang berbentuk seperti tungku tempat orang-orang tradisional biasa menggunakanya untuk masak ini merupakan salah satu bentukan marin didaerah pantai Plabuan Ratu, Jawa Barat. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai "Karang Hawu". Terlihat ombak yang menyembur masuk kedalam batuan akrang dan kemudian keluar lewat karang yang ada diatasnya. 

Gambar : Karang Hawu Plabuan Ratu

note: Foto-foto ini diperuntukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Media Pembelajaran Geografi (MPG). 

Rabu, 10 Oktober 2012

Mineral Emas Letakan diperairan BAYAH

Potensi Geologi Kelautan tentang kandungan Au dan Ag di sepanjang Pantai Bayah, Kabupaten Lebak - Banten, otak saya langsung ingat pada seorang bapak dan anak yang mendulang emas di pantai Basisir. Tak heran memang mereka mencari emas hanya dengan menggunakan alat seadanya, yaitu beberapa ember, handuk, dan alat dulangan kecil terbuat dari kayu. Ternyata inilah bagian dari KUBAH BAYAH yang menyimpan potensi sumber dayanya yang melimpah. 

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Geologi Kelautan, Mineral Emas letakan di perairan Bayah dijumpai dalam sedimen dasar perairan, pantai dan sungai. Emas letakan Bayah dari hasil analisis mineral butir terakumulasi pada sedimen pasir berukuran sangat halus (0,125 hingga 0,0625 mm). Hasil analisis bijih, kandungan tinggi Au dan Ag ( Emas dan Perak) berasosiasi dengan kandungan tinggi mineral magnetik. Dari kurva fluks gelombang sebagian pantai perairan Bayah memiliki kcenderungan akresi akibat proses sedimentasi aktif yang membawa emas letakan. hasil penelitian diketahui kadar Au 0,4 - 1,8 ppm Ag, 6,8 - 7,8 ppm, Fe 38,54-48,64 dan Cu 17-18 ppm. 

Proses pengambilan Emas yang kebanyakan dilakukan oleh warga sekitar ini masih sangat tradisional, hal itu bisa dilihat dari penggunaan alat yang digunakan. Dari hasil perbincangan yang sedikit dengan para pendulang di pantai basisir setahun yang lalu ini. saya dapatkan pula beberapa Foto proses dari mulai pemisahan pasir sampai pada proses pendulangan. 


Ini merupakan proses pemisahan pasir yang lebih halus dari pasir yang lain. Dengan menggunakan handuk pada alas bawahnya. sehingga pasir akan menempel sementara air akan merembes lewat handuk dibawah. selain handuk alas bawahnya juga bisa menggunakan kain yang bisa menyerap air
posisi dibiarkan miring agar air cepat terpisah dari pasir. 
setelah pemisahan pasir yang dilakukan dengan menggunakan handuk ,
maka proses pendulangan pun dimulai dengan sedikit demi sedikit.


pasir yang telah dipilih dan ditempatkan dialat pendulangan kemudian diremas-remas.


kemudian didulang dengan menggunakan sedikit air dan terkadang menggunakan
 cairan air raksa (kuik) sebagai pengikat emas.


penggunaan air raksa sebagai pengikat logam.

menuangkan logam yang berhasil diikat oleh air raksa kedalam air.