Jumat, 22 November 2013

Persepsi pendakian terhadap alam yang diam (catatan seorang pendaki amatiran)

Jadi banyak orang yang melakukan pendakian... semakin besar pula kontribusi perusakan... Apalagi pendakian yang tidak didasari kesadaran akan lingkungan... makin banyak sampah berserakan... Hampir disemua tempat yang pernah saya kunjungi. Alam rimba kehilangan keasriannya... plastik warna warni tercecer menjadi jalur perjalanan Semacam cagar alam pulau sempu yg ditiap si2 pantainya gunukan sampah pengunjung dibiarkan. Monyet-monyet kelaparan mncri makanan smpah berantakan Semacam gunung-gunung yang tiap minggunya mendapat pengunjung ribuan... membuka jalur, mematahkan dahan membuang pembalut di semak-semak pepohonan Semacam pantai yang dalam pasirnya terdapat botol2 minuman. Plastik-plastik makanan. Dan di sela-sela karang dan bebatuan sedal dan pakaian... Kesadaran akan lingkungan memang selalu menjadi alasan bagi para mereka penikmat hutan. Mereka ingin semakin dekat dengan Tuhan. Satu hal yang tidak pernah kita sadari. Yaitu tentang ketidaksadaran itu sendiri. Kontribusi yang nampak seperti ilusi. Seperti determinis dan possiblis... teori pemahaman manusia terhadap alam. Seperti itu pula manusia beralasan. Mereka dan juga saya akan tetap beralasan, bahwa pendakian asal didasari kesadaran terhadap lingkungan. Itu dibenarkan. Banyaknya pendakian pemula atau mereka yang sekedar penasaran semakin meningkat jumlahnya. Itu bisa jadi akibat dari perubahan sosial Bisa jadi trend para wisatawan luar yang dtg keindonesia. Bisa pula pengaruh industri pariwisata. Bisa karena kebosanan terhadap kota. Ya bisa-bisa saja... karena sesuai teori respon sendiri. Persepsi, sikap, kemudian perilaku... dan sudah tidak aneh jika sikap tak sesuai perilaku. Pada dsrnya kita manusia selalu punya peran yg lebih daripada yang diam. Seperti alam. Kita didasari persepsi untuk selanjutnya melakukan tindakan. Itu manusia. Semua manusia seperti itu. Semua dimulai dari persepsi kita terhadap suatu objek. Dan alam adalah objek. Kita tidak bisa menyalahkan kemanusiawian kita. Biar bagaimanapun didunia manusia selalu lebih punya peran. Dan alam adalah kajian. Penasaran adalah cara mendapatkan jawaban. Tindakan adalah cara kita menentukan keyakinan. Mungkin Saya juga menyadari sebagai yang memiliki peran. Sebagai salah satu korban rasa penasaran. Yang menjawabnya dengan tindakan (pendakian) Pernah saya berfikir bahwa semakin banyak kita membawa org melakukan pendakian. Kita juga berkontribusi besar terhadap kerusakan. Tapi sekali lagi, kita manusia lebih punya peran menentukan. Kita punya alasan. Kita punya motif melakukan tindakan. Terhadap lingkungan kita hanya bisa berpresepsi, bersikap, tapi tidak berpartisipasi. Kita hanya manusia. Itu saja.

Begitulah tulisan tentang persepsi, sikap saya terhadap sesuatu. Semoga dari tulisan ini pembaca bisa menyimpulkan. Karena sesuai dengan presepsi itu sendiri adalah hasil dari penggunan panca indra. Saya melihat, saya merasakan. Setiap kita punya pandangan. Hasil dari pemahaman. Hasil kerja panca indra. Kita memang tidak bisa menghindari ketidaksadaran. Karena kita selalu beralasan sebagai yg lebih punya peran (sudut pandang manusia). Itulah yang tidak membuat saya berhenti melakukan pendakian, perjalanan, menerobos hutan-hutan. Karena saya berperan. Saya manusia. Alam hanya diam. Semacam bentuk keegosian bukan? Itu masalah tersendiri yang tidak bisa saya lawan. Sejauh ini saya hanya berupaya taat pada aturan.

Kamis, 14 November 2013

Tanpa Judul

Berdamai dengan hati... berdamai dengan keputusan ilahi... kali ini mau tidak mau harus mempercayai... bahwa kekuatan itu berasal dari Tuhan mu sendiri... 
ingat, sebuah pencarian hanya akan membuatmu terhenti pada kepercayaan semula... berhenti mencari dan berhenti membuat spekulasi... kepercayaan hatimu sendiri yang tentukan... bukan orang lain. 
Kamu selalu bilang bahwa ketidak percayaan adalah bentuk kepekaan perasaan pada yang minoritas tertindas... mereka dibuat sakit oleh sebutan yang pedas... dan kamu mulai ragu dengan keturunan mu yang memberikan keyakian itu. Mereka selalu bilang "awas kamu terjerumus masuk kepercayaan mereka". Lalu dalam hati aku bertanya, apakah ini lebih bahaya ketimbang kita menyakiti sesama?. Tapi mulutku tidak begitu saja melawan mereka. Aku mulai berteori lagi, Mayoritas selalu ingin menang dari yang minoritas. Mayoritas terbelah dan Minoritas bisa jadi unggul. Tapi kali ini aku akan hanya diam, mempercayai apa itu hati. semua jawabannya selalu manusiawi. Bahkan keputusan besarku menyetujui semua kepercayaan karena itu bersumber dari hati yang paling bersih. seperti mereka yang selalu mencari dan menemukannya dalam diri sendiri. Kurasa Tuhan mengerti bahwa urusan hati sebaiknya hanya disimpan rapat didalamnya. seperti aku yang percaya bahwa kekuatan besar itu wajib dipercayai tapi tidak untuk dijadikan ajang pembenaran. karena kamu akan temui begitu banyak orang yang inginkan kebenaran dari apa yang mereka yakini. 

Selasa, 01 Oktober 2013

Kartu AS, Sejarah yang Kandas

Sajak malam tangisan para preman jalan dan kaum urban yang menindas gelandangan... Nyanyian para pengamen dan jeritan monyet di stopan...merangkul setiap irama mesin-mesin panas yang diistirahatkan. Terpaksa sekedar lari dari kejaran para tilang peraturan.

Belum pantas dikatakan kesadaran. Sebab kesadaran tercipta dari titik pertemuan jantung dan hati. Didalamnya dia dihubungkan dengan perangkat atas dalam sebuah batok keras. Bernama akal pikiran. Suatu yang khas dari manusia yang cerdas.

Dari dalam batok yang keras pula hinggap jamur-jamur ganas. Mereka terkenal diberbagai daratan didunia. Bahkan menamainya sebagai hasil pikiran dari otak yang paling cerdas. Kebudayaan dari zaman yang sudah kandas. Dari zaman emas. Zaman yang sampai saat ini masih menjadi sejarah-sejarah tak diketahui bangsa ras.

Jumat, 20 September 2013

HABLUM MINANNAS

Ada sebagian hati yang mulai terjengkali. Dan setiap perjalanan adalah dambaan sebagai sebuah utusan yang siap bertempur di medan peperangan...

Kita mengakali dosa dan membentangkan kain dari maha raja yang tak satu setanpun mencoba mencari kesalahan untuk kemenangannya.

Sekali kita berkata tentang arti kekejaman.... Maka semua kekuatan akan mencoba memasang keperkasaan....

Sementara pada pertalian dua insan yang dikremasi oleh leluhur sebangsanya... kini kita jumpai sebatas kehawatiran yang memuncak diatasnya...

Sekalipun kita tidak pernah bertanya apakah ada sebuah kekuatan diluar dugaan?...

Dosa akan terus berharap berenkarnasi dipedupaan...

Terlalu banyak otak yang diasah semakin tumpul pada kepekaan... dan semakin menjauh dari arti kemanusiaan...

Sementara ancaman depopulasi memuncak dipermukaan... kita saksikan penderitaan... atas penobataan..
kita menjelma Menjadi udang rebus kemerahan...

Akh... fantasi luar biasa ini makin muncrat diselingi bau amis darah bercucuran... Tidak lagi bicara versi dan aliran... kemungkinan besar dosa adalah kelaknatan manusia terhadap sesamanya...

Rabu, 19 Juni 2013

Grand Design 23,5 Derajat Tuhan


A: 23,5 derajat bukan 24 derajat... kamu tau kenapa???

B: hem... (dia hanya menggelengkan kepala tanpa jawaban)

A: karena sekecil apapun angka itu akan menjadi perhitungan alam semesta terhadap semua Fenomena didunia.

B: seperti hidup yang padahal bukan milik kita?

A: seperti 21 desember saat matahari membuat siang hari begitu panjang diselatan. dan bergantian ditanggal 21 juni dengan kutub utara.

A: hem... (berkali-kali dia mengeluarkan suara yang sama)

B: itu adalah grand design-Nya

A: Apakah semua yang didunia ini juga bagian dari grand design itu?

B: Tentu. kadang kita tidak akan tahu tanpa mencerna dan jeli terhadap yang ada dan alam ini perlihatkan. yang pancaindera rasakan.

A: bahkan ketika hujan turun tanpa bisa diramal?

B: semuanya...

A: iya semuanya...
(semua yang Tuhan tunjukan lewat setiap fenomena alam semesta, termasuk hati kamu yang tanpa bisa tau perasaanku. grand design Tuhan membuat semuanya menjadi terbuka. bahwa segala sesuatu dialam ini bukan terjadi atas hukum rimba. lalu kemanakah pancaindera yang kamu fungsikan untuk merasakan apa yang kamu bilang barusan??? untuk mengenali hatiku saja kamu tidak mampu. apakah Tuhan mendesignnya agar mati rasa??? atau kamu kurang jeli dan peka???).

akhirnya A pergi tanpa mampu bertanya lagi... B masih mencari kenampakaan yang alam semesta sembunyikan. sementara urat-urat takdir terputus begitu saja.

*mencoba menulis sisi lain manusia dengan alam semesta.
dan initinya apa ini???? hahaha...

Jumat, 10 Mei 2013

OBROLAN

A: pernah dengar bagaimana wanita cemburu pada wanita lain??? ya, Res mungkin itu tindakan tepatnya...!!! 

B: Tapi semacam spekulasi tidak mendasar dan celoteh buruk sangka???

A: Bisa jadi ada pihak adu domba...

B: atau pikiran wanita semuanya memang begitu??? tapi gue kagak...!!! #nyengirkuda

A: Karena sebagian di diri elu itu Hati lelaki... #nyengirtanpadosa

B: Urusan rasa buat gue itu HAK ASASI MANUSIA...

A: Kebanyakan baca buku sosialis lu...

B: daripada elu, kagak pernah baca buku... paling serching di internet cocokin hasil bacaan gue sebelum elu aplikasiin ke Cewek lu...??? 

A: lu sarana gue buat tau banyak tentang kemunafikan wanita... 

B: tapi selama lu ada didekat gue elu gak dilanda penyakit jatuh cinta kan???

A: gak pernah gue kepikiran... elu lebih asik diajak temenan...!!!

B: gue setuju sama akal pikiran elu yang rada sinkron... 

A: tindakan elu sendiri yang ngasih jawaban, elu deket sama semua cowok tapi hati elu kagak... elu hanya asik mengobrol sama mereka... buat elu mereka sarana paling bagus untuk diajak shering tentang apapun... 

B: elu yang paling tau gue, sob... bahkan lebih dari temen wanita gue zaman SMA...!!!

INSOMNIA PALING KURANG AJAR


Kali ini aku merasa Insomniaku malam ini jauh sedikit berarti, karena ada seorang manusia yang lebih lama membuka matanya dan bercerita tentang dunianya, bisa juga aku ikut didalamnya. Dan entah kenapa aku merasa otak kanan kiri memupuk wajahnya semakin nampak jelas mengadopsi sebagian potret disegala sendi perdamaian. 

"Aku hanya ingin bicara itu saja tak lebih agar kau percaya" sentaknya digaris akhir saat aku mengecamnya terus dari tuduhan.
Sorot mata yang meisyaratkan keraguan masih nampak jelas menjelimetkan ratusan angka dipikiran, seolah otaknya habis terkikis dan terkonversi hanya untuk dapat bisa meyakinkan... Tapi aku masih tenang dalam berupaya menjadi penantang...
"Aku yakin otakmu masih penuh candu kegilaan, semenjak kita mengadu gelas dan seirama dalam tegukan"
Dan kau memapah matamu untuk menyaksikan kebodohanku yang paling purba selama aku mengenalmu... seminggu kebelakang yang paling gila, seminggu kebelakang yang paling tidak bisa dipercaya, dan aku hanya bisa bercanda meski aku merasa itu penutup luka, yang kemudian dijadikan penutup kepala untuk maju diarea perangnya. Entahlah, malam itu aku sedikit gila...
"Tak usah menjadi munafik, jika pada akhirnya kamu merasa bahagia" kata-kata itu terulang kembali membanjiri meja kerjaku untuk kutelisik beberapa arti didalamnya. Aku tak terima seolah dia makin brutal melontarkan kata-kata serupa demi membuat kesalahan ku yang kedua. Entahlah yang jelas malam tak memberikan ku kekuatan untuk bercekrama bersama ratusan amunisi yang telah lama mempersenjatai diri. Aku benar-benar gila malam itu...

Malam makin gila membuat nuansa, tak ada hujan orografis ditempat kita, atau angin laut yang merasuki pori-pori kulit para nelayan dipesisir pantai selatan dan utara, kita hanya mengadopsi ratusan suara jangkirik yang sesekali perlu didiamkan untuk memberi celah bicara. Kau kembali meraba kata dan bicara sedikit terbata, "aku hanya akan menjadi sebuah bentangan patahan, yang dalam kebingungannya antara harus turun kedalam dan naik kepermukaan"
Mataku tak sempat mengedipkan cairan agar tetap bisa menantang kegelapan...
Kau langsung menyerbuku dengan semarak suara camar ditengah lautan...
"Turun kebawah yang serta merta harus membuatku egois untuk membawamu juga masuk kedalamnya, atau naik kepermukaan untuk mengikhlaskan kamu tetap pada keadaanmu sekarang"
Mataku membesarkan lingkaran meski aku tau keadaan pupil tetap pada penyesuainnya dengan kegelapan... Entahlah aku terkesan...

Pada perbincangan yang sedikit menyiksa mata untuk dapat terpejam dan mengeluarkan macam-macam kotoran, aku tak berupaya banyak bicara dan menjawab semua perkataan. Kadang aku merasa menjadi kambing hitam yang perlu segera dibiarkan liar sendirian. Perasaan yang kerap kali datang secara fukluatif, membuat rongga dada makin kembang kempis dititik terbawah namun juga berjaya digrafik teratas. Yang jelas malam itu kamu makin ganas...

Perbincangan yang sesekali harus terputus, tak lebihnya celah berfikirku. Pun cara mendapatkan jawaban yang masih saja bisa ku endus... Menciumi segala kebohongan yang sesekali perlu juga aku jadikan tuduhan, merasai udara malam yang mengisyaratkan kedustaan, memuntahkan kebosananku pada setiap lantunan adam kebanyakan... Demi apapun aku menyaksikan alam begitu menuai kegoblokan...

Waktu yang berjalan biasanya, dari satu angka ke angka lain menempatkan jarumnya tepat pada sasaran. Kukira waktu akan juga dapat menyadarkan, namun kiraku salah belakangan ini... Otaku sedikit menumpul, hatiku dipenuhi bercak seperti besi yang karatan, dan jantungku bagai hentakan bass dikaki seorang pesumo amatiran... Aku dalam posisi tidak karuan...

Kulihat jam pada langit malam yang teduh, ku kira polusi cahaya yang akhir-akhir ini membuat bintang hilang pamornya sebagai hal paling dinantikan dalam kegelapan, dalam malam yang sedikit memberi ketenangan. Lagi, lagi aku salah mengira, otaku makin jauh merekayasa waktu yang kelagapan menemui siang... Suara burung yang selalu ramai bergosip dipagi jam enam, iya aku masih hafal ekosistem ditempatku... Ini bukan mimpi malam yang kesiangan, ini siang yang kutemui sebagai malam... Entah, setan apa yang membuatku bertahan dengan insomniaku, kukira aku mengulang lagi kebodohan yang dua kali dalam seminggu kebelakang ini, mataku mulai mengecilkan titik hitam didalamnya sampai kemudian tenggelam dalam riak gemuruh kemacetan dijalan pun perbincangan yang tak menemui tujuan...

Rabu, 08 Mei 2013

PROSA 21

tentang teori-teori kekekalan di dunia yang mengatas namakan TUHAN...
tentang sebuah anggapan yang luar biasa tak bersebab akibat di alam raya...
begitu cinta diterangkan menjadi aksara pengalaman yang paling dasar diraba manusia...
memberi peluang bentuk lain dari perasaan bereaksi dalam sel-sel otak yang juga membara...
kini aku dengan ribuan manusia yang sama mengembara, harus pula mengakui tentang waktu yang berjalan kedepan memberi angka dalam usia... memberi kesempatan bagi yang baru dan muda...
kini aku menyadari kebangkaanku... semacam kerak dasar samudera dan benua yang membentuk batuan baru, mengandung mineral yang entah sampai kapan akan bertahan dalam kerakusan otak-otak sebangsaku "manusia"
akh,,, teralu panjang berprosa... diusia ku yang dua satu... semoga aku tidak berada dalam kematian yang menjijikan didunia...!!!

Jumat, 19 April 2013

BOSAN DIKEBIRI ALIRAN

Penyakit ini kerap kali melanda sistem saraf manusia, berkonversi dari tekanan bahagia menjadi sedikit memutar-mutar kata. Berambisi mencari sesuatu yang bisa dirasa meyakinkan diri yang sulit mencerna biasa. Mencari yang diluar kata orang normal itu seperti memancing ikan piranha didasar kedalaman lautan tanpa ada cahaya. Atau sesekali mencoba sauna di padang pasir sahara.

Kita yang muda, kita yang berambisi tinggi pada semua, pada perubahan yang harus sejalan dengan keinginan tanpa pula menghiraukan kesesuaian, menjejali pemaksaan dengan sistem paling mutahir masa kini, mengadopsi sektarian dari berbagai negara dibelahan dunia, rusia, amerika, juga prancis, atau juga budaya lokal sendiri yang diperbaharui jadi sedikit inovatif.

Kita yang merasa muda, pernah juga membuat sejarah tak melupa, mecatat setiap kenyataan jadi kebenaran yang paripurna, merasuki alam maya yang menumbuhkan kaliandra disetiap lahan baru dizamannya, mengukur debit air permukaan disetiap celah kucuran keringat pemangsa... Pendobrak... Dan mengaku perubah tatanan dunia...

Mempelajari skema perang gerilya para tua yang merdeka, pengubah negara yang bangka, memupuk jiwa anarkis disetiap sudut keegoisan yang juga murka, penyakit muda penyakit gangguan saraf yang tertekan oleh usia...

Bosan, dikemudikan para mereka yang bangka, sempat membakar urat magnesium mereka yang juga mengaku pernah muda, hanya saja kita tidak sekejam zaman mereka yang dikuliti rezim yang purba.
Kapan kita mengembala yang tua? Mungkin tidak akan pernah ada hal semacam itu, karena kita tak lebihnya mengadovsi budaya binatang, yang tua yang selalu jadi terkuat dan jadi pemimpin kawanan, yang tua yang selalu mengawini para wanita perawan, yang muda hanya diam mengikuti jejak pemimpin kawanan. Namun satu hal yang kita pertahankan dari zaman keemasan para pemimpin kebanyakan, "yang tua yang banyak pengalaman" pengkebiran itu merasuki sebagian pemikiran muda, kaum intelek menjadi sangat kerdil dibuat sistem zaman penjajahan.

Feodalis ala pendudukan, dimana manusia - manusia selalu merasa terhina hilang kebebasan. Atau strata pencapaian yang harus dirangkaki oleh ratusan rodi sepanjang pembuatan jalan atau juga Serangan romusa membuat kemenangan musuhnya oleh bala tentara buatan.
Tidak akan pernah usai memperbincangkan, hanya saja kita harus mulai mengakali kebosanan para pendengar, atau malah kita sendiri yang harus segera lari dari kebosanan yang diperbanyak oleh akar-akar hitungan. Perkalian, pertambahan, sementara pengurangan hanya dibuat untuk kita mengoreksi kesalahan menghitung kelebihan.

Kamis, 18 April 2013

BUDAYA SANG MUDA

ice coffee... sembari sesekali berbual pelontos tentang petaka dinegeri ini, para bandit berkumis yang kocar-kacir kena tuduhan korupsi...
sekali tegukan manis, semeriwing rasa dingin menjalar ke otak kanan dan kiri...
bergaya para pejabat yang menikmati "coffee break" selepas rapat besar menguras keringat... meresapi udara liar yang menggigit kulit-kulit kasar para penantang perang moral...
mari uraikan satu per satu amunisi yang lantas dijadikan alat untuk menyerang, membabi buta tapi kadang punya strategi sendiri untuk menang, sekali kibarkan bendera merah maka sekali lagi kita perang bukan untuk menyerah dan pasrah...!!!

PROSA PEMBALASAN ALAM



Polusi cahaya dilangit kita berada, atau kemurkaan yang menyala mengalahkan rangkaian rasi bercahaya…
Senja tadi ditempat biasa kita menyapa matahari menyentuh lautan kita, mungkin ada hati terbakar disudut merah jingga dan membara…
Atau mata liar nan sinis berkedip semaunya menandakan isyarat rupa kecewa diantara harapan terbungkus kekalahan…
Telah kusaksikan itu berulang kali…
Meneguk arak bercampur wangi kemenyan …
Atau sesekali menghirup udara segar tapi menyakitkan, dan seketika terkapar pun racun tiba memenuhi ruangan…
Akh, itu hanya kebodohan terbalut sendu semalaman, dan kau ingin mati tersaksikan kesakitan? Beralasan tapi tak meyakinkan…
Sementra kau ciptakan berbagai polusi cahaya untuk menutupi sajian malam bercahaya…
Polusi udara bertabur racun kematian, menyesakan, mematikan segala fungsi tubuhmu sendirian…
Sampai pada air yang kau campur arak berbau kemenyan untuk melenyapakan sebagaian kehidupan yang kau angankan…
Halah, kau adalah polusi…pencemaran semua sudut kehidupanku yang telah dirangkai untuk menyajikanmu seorang pemenang sendirian…
Dan aku akan menjadi gunung api yang memuntahkan lahar sampai pada keterpurukanmu yang menjijikan…
Mencemari sungai yang kau jadikan sumber kehidupan, mematikan segala yang tumbuh dipermukaan…
Jika kau tak paham abu-abu kecil sumber kesuburan, maka aku akan leluasa meluluh-lantahkan keadaan…
Maka belajarlah waktu alam mulai menerangkan, karena aku pun punya pembalasan…
Sebagaimana jenis tanah yang kau pahami sebagai lahan, sebagaimana jenis tumbuhan yang mampu tumbuh sesuai ketinggian…
Dan mari kita mulai pahami fenomena dari sebuah ledakan gunung yang menjatuhkan banyak korban, ku tahu kau lebih paham maka hentikanlah serangan demi serangan yang mulai kau lakukan, karena aku menguasai kau juga nya…
Tapi aku bagaikan semua lempeng yang bertabrakan, yang sekaligus mematikan sistem pertahananmu dalam kehidupan …
Mematikan sebuah sistem bercocok tanam yang menghasilkan spesies baru dalam pertanian, atau banjir lahar dingin dari sebuah ledakan yang menghancurkan segala sesuatu dipermukaan… dan kau mati kelaparan…!!!

Rabu, 10 April 2013

KAGUM



Diantara daftar riwayat orang hebat, selalu ku temukan manusia pemikat hasrat…
Dimana-mana dibelahan bumi manapun, entah berapa region yang tergambarkan selalu punya tempat…
Sesekali mengingat dan sesekali berfikir tentang warisan yang tergambar dari setiap watak… dan aku hanya mencoba menghitung berapa ratus angka di meja kerjanya…
Berapa ratus wanita yang bergetar hatinya…
Atau di udara ku ciumi bau senja yang memperlihatkan wajah sengsara bangsa-bangsa seperti kita…
Berjalan layaknya penguasa Negara,
Berkemeja menentang kebiasaan gembel berkaos dekil tak berwarna,…
Aku mengagumimu bukan karena punya Negara, berlatar sebuah organisasi besar tempat para kader pemimpin bangsa…
Bagiku kau tak lebihnya lelaki biasa penggoda yang juga terlahir di Negara dunia ke tiga…
Berjiwa sedikit nasionalis dan sosialis terpaksa… kau lahir di era mahasiswa…!!!

Selasa, 09 April 2013

Perubahan apa yang kita inginkan?



Menjadi manusia pintar dengan segala kelebihan yang mempengaruhi kebijakan? Atau berupaya menjadi penggerak untuk mengubah kondisi yang semakin mengawatirkan? Ini adalah bagaimana generasi bergerak untuk perubahan bukan? Perubahan yang seperti apa yang di inginkan?. 

Apakah ini tak bisa diselesaikan sesederhana mungkin? Sesederhana pemikiran biasa pada sebuah catatan tentang keingian. Tak banyak teori yang diperdebatakan, atau banyak ucapan mengira-ngira sesuatu dengan ilmu yang terlalu berlebihan. Masalahnya bukan pada apa yang diterapakan, namun jauh dari itu, sebuah kenyataan yang diharapakan. 

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini, adalah kajian yang perlu dibahas dalam meja pembahasan bukan perdebatan. Masalah perbatasan, masalah politik pemerintahan, masalah dan masalah… lainya yang memang berpacu pada keadaan dan kenyataannya.
Indonesia merupakan Negara dengan segala potensi yang ada, potensi sumber daya alam yang jika dibandingkan dengan Negara-negara lain jauh lebih besar.  Namun kenyataannya itu semua tak bisa menjadi sumber kesejahteraan.