Kamis, 29 November 2012

Cerita Pendek Tentang Bangkai dan Rintihan Hujan

Tentang alasan dari sebuah pilihan, kau terdesak mematikan lontaran... Kini kau terbaring sendiri menelan penyesalan... 

Kini, ruang dimana tak satu suara pun dapat terdengar kecuali hujan yang merintih pada dedaunan, kau masih tetap berada pada hampa kemunafikan...

Kejujuran yang pada akhirnya menyeretmu sendiri pada sepasang belati yang kutempatkan dimeja beraltar pemujaan...

Api perdupaan masih belum padam, sementara kemunafikan menalikanmu pada kepingan memori lama yg belum usai... 

Kau bangkit dr alam bangkai memuakan, taring cobra masih kau gunakan utk mencapai harapan, pun otak buaya berada pada dengkul paling dasar

Api perdupaan semakin membara diujung meja beraltar, sementara ruang pengap mulai kurobohkan, 


Dedaunan mencoba diam hujan berhenti dari rintihan, segudang kejujuran balutan kemunafikan tercurahkan perlahan


Bahkan dlm dengkuranmu, saat kau bermimpi masih pula ku temui kau dlm kemunafikan...


Tapi ketulian tak membuatku berhenti mendengarkan, karena disisi lain ada byk mata tak lepaskanku dr harapan...

Butuh Teduh untuk Bisa Mencium Air Matamu


Kita pernah punya cerita dan pernah juga tidak sengaja membuatnya ternoda. Kepercayaan yang dihakimi sebagian persen keangkuhan dari diri masing-masing. Membuatku membual tentang harapan yang tersusun rapih dan porak poranda berantakan.


Aku bertapa diantara dusta yang menerobos kejujuran dalam setiap angka-angka pembawa pilihan. Memang sedikit membuatmu mengerutkan dahi diantara butiran peluh bercucuran serta air mata yang mendampingi ketulusan. 


Aku terdiam diantara senja yang selalu kita saksikan di bibir batu karang garis pantai selatan. Kamu selalu menyadarkan tentang tak ada satu pilihan pun yang harus kuikatkan dalam genggaman tali yang harus kuputuskan. Kamu begitu membuatku meleleh dari keterasingan beberapa bulan kemarin. Tak satu celah yang kau biarkan kosong untuk terus menerobos relung penuh empedu terbakar. 


Aku marah, kamu semakin memerah. Aku diam kamu semakin dingin pasrah. Aku begitu menjadi mahluk terkejam dari segerombolan serigala yang memilih menyendiri dan bersikeras membela diri. Sementara hujan itu terus membuat dingin yang menggerayangi tubuh letih kehabisan kekuatan. 


Aku kalah membuatmu menyerah dari kekuatanmu untuk bertahan. Aku menyesal. Aku mencari kekuatan untuk bisa bertahan dari sisa-sisa keprcayaan. Dari sisa-sisa rasa yang lebih dulu kau jadikan harga mati untuk sebuah hubungan. "Masih kah kau ingat hujan yang kau tunggu-tunggu atas jawaban cinta dariku?" Tapi kemudian aku meminta teduh untuk segera membuatmu menunggu hujan kembali agar kau bisa tau isi hati.

Hingga akhirnya kau begitu mengerti jawabanku tak secepat kilat yang mengantam batang pohon kering disebrang pandangan kita. Kau menunggu dan akhirnya menjadi layu, tapi hujan kemudian menyegarkanmu kembali. Kau kejar aku dengan mata angin yang tak tau kemana titik akhirnya, kau meragu dan bisu untuk kesekian kalinya, tapi berkali-kali hujan membuatmu menunggu arti teduh untuk bisa membuatmu berlari kembali. Dan aku kalah mengalah pada pertahananku yang sendiri. Kamu menang sekaligus merajaiku tanpa aku mengerti arti sebuah mencintai. 

Lantas waktu menyusun bongkahan dari batu megalitik yang kau tanam terus menerus diawal tahun sepuluhan. Kau membuatkanku menara tertinggi yang sekaligus harus kandas sekali jadi. Hingga kau dapati aku yang sendiri dan menyusunya kembali. Matamu memerah, berair dan meleleh pada pundaku yang mulai berat menopang kesakitanku atas sebuah penyesalan. Dan kau berkata : "perlu hujan untuk bisa membuatku berlari kembali seperti dulu" dan aku menjawab : "dan aku hanya butuh teduh untuk kembali mencium air matamu"


Sabtu, 03 November 2012

Babi, Srigala dan MONYET bertaring Cobra


Lolongan anjing dipelataran menghabisi sebagian persen keberanianku bertahan... Terlalu miris memang babi hutan yang kesepian itu sendirian...

Ditolehnya dunia hanya sebagai perupaan api perdupaan disetiap sudut keyakinannya menemukan teman... Atau awal sebuah kenangan...

Beribu srigala berburu mencari makan, akal liar yg sembarang menempatkannya menyalahkan keputusan... Pilihan... Dan kenyataan..

Sementara babi hutan yg sendirian mengorek lubang cacing yg enggan muncul kepermukaan... Sampai kehabisan akal dan air dlm tangisan...

Masih tak dia dapatkan sbh pelukan mesra dri gudang ketulusan... Dia bersaembara bersama kebencian, melukai keputusan yg ingin dihancurkan

Srigala mengintainya dri semak ilalang liar berkabut... Dr sekian pohon cemara yang meranggas diri penuh kalut...

Beribu bahasa iblis ia lontarkan... Srigala kehausan... Liurnya habis jd tontonan pertunjukan kocak tertawaan...
Babi hutan menggeram, taringnya keluar... Ia lucuti baru ziarahnya kemudian lari memburu srigala bermata bintitan...

Srigala makin gila perupaan... Liurnya habis untuk sebuah adegan yg ia tertawakan... Babi hutan makin geram lari bersama kebencian...

Dan seekor monyet bertaring cobra mencoba menyadarkan sang babi... Dgn menyuntikan obat penenang dike2 pahanya yg tampak monyong...

Sementara srigala kembali kepelataran dgn hati yg berada dipuncak maar yg ingin meletuskan segala isi perutnya kepermukaan

Dgn akal monyet bertaring cobra, babi hutan mulai tau muka... Dia mencoba bercerita dan menangis dlm murka...
Akh, dasar monyet taringnya beradu dengan taring babi hutan dan mengeluarkan bisa cobranya ketubuh babi hutan yg kesepian...
Memang akal monyet mendekati akal manusia...!! Babi hutan sementara tidur dlm dengkuran, entah kapan ia sekarat akal monyet yg tau jawaban

Babi hutan bangun, monyet kelayapan... Srigala mengintai dlm celah pohon yg kurapan... Dia terheran-heran...

Monyet siap pasang akal, akal yg ditemukan dlm tengkorak manusia yg paling pintar... Srigala melolong, monyet gagap kesulitan...

Srigala menghindar, babi hutan siap jadi pemenang... Monyet kebingungan... Sekali lagi monyet bertaring cobra kebingungan...

Srigala pergi, babi hutan kerasukan... Monyet bingung dan meninggalkan babi yg kesepian...
mereka dibiarkan tanpa sebuah perlakuan, keyakinan, kenyataan... Monyet bertaring cobra memotong taringnya dan bersemedi di pelataran...

Akh, dasar babi, monyet dan Srigala... Ada-ada saja kelakuan kalian...!!!