Senin, 13 Februari 2012

Sisa


(teruntuk wantia berinisial “S”)

Ilustrasi: google
Memang tidak enak rasanya menjadi sisa,
Atau menikmati sisa…
Karena sisa adalah penistaan…
Bekas penjajakan…
Pun pelampiasan…

Aku rasai kau yang dianggap sisa…
Sisa sepengenalanku dengan keterbatasan menikamti sisa mu pula…
Karena sisia adalah penistaan..
Bekas penjajakan..
Pun pelampiasan…

Ku kenali kau sebagai sisa…
Sisa kekacauan yang dilemahkan keperkasaan…
Karena sisa adalah penistaan…
Bekas penjajakan…
Pun pelampiasan…

Aku benar mengerti kau sebagai sisa
Sisa yang berserakan yang kapanpun bisa dipunguti
Karena haus kebutuhan
Atau memang kau benar-benar sisa yang dirubah sedemikian menakjubkan…
Namun waktu tak mengenalmu sebagai sisa…
Karena sisa adalah pembuangan….

Kamis, 09 Februari 2012

Akumulasi semua rasa bernama CINTA

Merupakan kata-kata yang sering di ucapakan untuk menamai masalah rasa yang satu ini... "Cinta" yah, Cinta.

sumber Image: Google
Terinspirasi dari kata-kata mas Pramoedya Ananta Tour dalam bukunya "Bumi Manusia" yang diterangkan oleh Jeans Maramis bahwa "Cinta itu indah..., juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya, orang harus berani menghadapi akibatnya". kata-kata itu seolah menyadarkanku tentang satu hal yang Tuhan berikan sebagai penguat dan perapuh manusia. Bahwa cinta demikian menjadi sebuah kekuatan yang mampu melatari berbagai keadaan manusia. Menjadi candu kebaikan ataupun keburukan yang mengubah keadaan dalam diri manusia. 

Tidak mudah memang menuliskan sesuatu atas dasar perasaan, terlalu rumit jika semua masalah rasa itu kita hadirkan dalam bentuk tulisan... namun setiap orang tentu merasakan hal yang sama ketika di hadapakan pada masalah-masalah persaan. karena tuhan menakdirkan manusia itu sebagai mahluk perasa...!!!.

Kehadiran semua rasa ini bisa dalam bentuk apa saja dan pada siapa saja. Dengan mengenal dari apa yang ada dalam diri seseorang, apa pun itu yang lantas akan dikagumi dan menjadi hal yang di sukai.....!!!
atau karena keterikatan dan kebersamaan yang menjadikan semuanya sebuah ketergantungan... ketergantungan  yang akan menimbulkan masalah rasa baru yaitu "Sakit" saat binasa memusnahkan bentuk dari ketergatungan itu, atau kebiasaan dalam keberadaan seseorang tersebut. 

Cinta, akumulasi dari semua rasa yang dialami manusia. Cinta, Benci, Sakit, Simpati, dan lain sebagainya yang enggan saya sebutkan karena setiap orang sudah tentu dapat mengetahui dan merasakan bentuk-bentuk perasaan yang sudah dinamai manusia itu. 


oleh karenanya, Cinta begitu memiliki peran dalam hidup manusia, tidak bisa dipungiri memang bahwa semuanya di tunjukan oleh materi yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Hanya bentuk getaran yang teramat dasyat dirasakan, tidak peduli pada keadaan dan bagaimana likuk dan bentuk mahluk yang sudah diyakininya mengundang perasaannya maju mundur untuk mengenal dan jauh lebih dekat bahkan memilikinya  seperti benda yang ada. 

Mata tidak bisa membohongi pada apa yang tampak dengan jelas olehnya, pada bentukan-bentukan Tuhan yang maha Dasyat dan apapun itu yang mengindahkan ataupun tidak mengindahkan...
namun cinta belajar berakumulasi dengan semua bentuk rasa lain... termasuk mengajarkan bentuk Keikhlasan. 

Sederet tulisan apapun yang mencoba menerangkan dan meterjemahkan bentuk dan masalah rasa, tidak akan mampu secara detail dapat dijelaskan oleh kata. karena pada akhirnya kebinasaan akhir segala rasa cinta yang berkemelut memanjangkan deret hitung kadar ketulusan. Mau tidak mau, Keikhlasan berlaku adil pada perasaan.....

Ty_poems





Rabu, 08 Februari 2012

Pada siapa...???


detik ini, keadilan berjibaku dengan keadaan yang tidak surut dari pandangan...
mengalahkan bentuk kemanusiaan...
pada deretan undang-undang hukum keamanan...

semua berjibaku dengan masalah keamanan...
pada maling..

pada anak di jalanan...

pada sopir angkutan..

pada buruh kasar perkebunan...

pada gembel-gembel gelandangan...

pada keadilan yang mengatas namakan undang-undang peradilan....

pada semua yang bernama manusia...!!!

semua berjibaku dengan nafas-nafas kebebasan...
pada curhatan sang pemuka keadilan..

pada sang bapak di meja pemerintahan....

pada sang ratu di singgasana pemerintahan...

pada sang korup yang kurapan...

pada semua ketidakadilan di atas pendustaan perundang-undangan....

semua terlihat begitu bersemangat, 
pada pemangku keadilan yang berkeringat dingin ketahuan...

pada pelaku yang harap-harap cemas pada kebebasan...

pada santunan yang dianugerahkan banyak orang diluar gedung pemerintahan

lantas pada siapa semuanya di berikan...??????

#Ty_poems







Senin, 06 Februari 2012

Mencari Berkah dari Sisa Sesama


Bau menyengat, kumuh, menjijikan, dan sangat tidak mengenakan itulah kesan pertama yang saya rasakan saat menginjakan kaki di sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di kabupaten Subang, Jawa Barat. Ini kali pertama bulu tubuh saya di buat berdiri oleh bau yang maha dasyat dari gunukan sampah yang menumpuk membentuk gunung-gunung plastik. “Yah… terlihat sampah plastik mendominasi…!!!”. Hampir sesekali saya mencoba bernafas dan kembali menahannya, begitu seterusnya sampai kemudian saya merasakan mual dan pusing menyerang setelah sekian menit saya mencoba bertahan dengan keadaan itu. “Hmmm.. ternyata saya perlu adaptasi untuk menyesuaikannya”.

Beberapa pemulung yang mencari sisa dari tumpukan sampah
sumber: Ty_PHOTOgraphy
Potret itu jelas… mengabadikan setiap kedetailan barang-barang bawaan angkutan truk sampah pembuangan. Satu persatu tangan-tangan telaten mengorek-ngorek selayaknya mencari puing emas dalam tumpukan jerami (hehehe..). seolah itulah hal yang paling gampang untuk dikerjakan. Dan saya pun mencoba mendekat kembali, mencoba mengadaptasikan penciuman ini bagaikan mencium krisan yang baru mau mekar, “yah, tapi jelas itu dusta…!!! Hehe”. Saya dibuat heran oleh keadaan sekitar, dimana kebiasan menjelma menjadi hal yang tak terwajarkan. Orang-orang disana (pemulung) begitu akrab dengan hamparan dan gunung-gunung sisa pembuangan sesamanya atau bahkan dirinya. 

Dua anjing sedang mencari makan. sumber: Ty_PHOTOgraphy
Suasana nampak selayaknya pasar, dimana orang-orang sedang mencoba mencari barang yang dibutuhkan atau disukai dalam tumpukan barang lainnya. Jelas, interkasi pun membingkainya. Dimana semuanya tertata dalam sebuah potret yang meyakinkan saya bahwa inilah sebuah rutinitas kehidupan. Membentuk sebuah komuitas baru “komunitas persampahan”. Seakan memberi gambaran keadaan manusia-manusia konsumtif yang pada akhirnya membuat lahan yang cukup luas itu dijadikan akhir sisa pembuangannya yang tak berguna. Anjing, Burung, Lalat, dan beberapa serangga lainnya tak mau dipisahkan dari sebuah komunitas itu. terlihat tidak ada sebuah persaingan dalam merebutkan aya yang mereka saling temukan. Dan hanya berupaya untuk segera mengenyangkan perut-perut keroncongannya. 


Satu persatu truk berwarna kuning berdatangan seolah seperti angkutan penyuplay barang, yang mencoba mengisi kekosongan barang-barang kebutuhan sang pencari sisa. para mencari sisa pun tak mau kehilangan moment, mereka mengerumuni truk tersebut dengan alat panjang terbuat dari besi (gak tau namanya…) dan tentunya sebuah karung yang siap memasukan apa saya yang ditemukan.
“Semakin padat dunia oleh manusia, semakin luas pula ruang untuk menampung sisa pembuangannya. Tak bisa terurai dengan mudah, dengan hanya beberapa tahun saja”.




dari MATA SEORANG JELATA


Kali ini, dimana setiap detiknya adalah guncangan mental keasingan dalam kepribadian. Setiap alur perjalanan yang dihakimi oleh nasehat besar punya peran. Aku menggoreskan noda disekian pijakan yang mengukir keadaan. Dan kini aku terpuruk mengalahkan kesadaran.
Kesadaran tentang satu hal, yang pada dasarnya tidak bersemayam dalam jiwa. Melukiskan pemikiran-pemikiran yang melintas kemudian menjadi terjemahan dalam uraian kata-kata biasa. Lantas terbiasa dengan segalanya, pun coba luruskan semuanya namun tidak Nampak jua. Aku masih tetap berusaha meyakini segala yang ada dalam diri ini, sampai tiba waktu berdua aku bersama Tuhan dalam keadaan yang membahagiakan.

Hidup memang perjalanan mengadopsi alur dan peran yang di ciptakan tuhan. Mengawali dengan sebuah tangisan pertama saat angin dunia mulai menerpa raga mungil punya nyawa. seiring detakan jantung yang berdenyut dengan nadi disebelah kanan tangan, urat-urat keperkasaan diri yang liar menantang dunia luar, dengan kaki tangan yang masih sangat ringan menggenggam.
Hidup memang mengukir sejarah lewat umur yang bertambah, setiap detikan waktu yang mengalun dan meninggalkan kenangan yang terlewatkan bersama kejenuhan, kebahagian, kesedihan, keputusasaan, kemarahan, kekonyolan, dan masalah rasa yang lain demikian banyaknya dilimpahkan tuhan sebagai sifat manusia normal. Terus menerus bergantian bagaikan memusiman yang selalu bermanja dan berdebat dengan keadaan, dan terlepas satu persatu saat Nampak bunga-bunga bermekaran. Fase akhir semua masalah rasa yang di alami dalam kehidupan.

Dunia begitu cepat berubah, namun matahari dan segala yang disinarinya masih tetap begitu tidak berubah hanya saja sifat alamiah yang sudah semakin meronta-ronta pada keadaan. Bertambah tua, bertambah lapuk, bertambah kusam, rapuh, kemudian habis terkikis… dan punah sudah. Segala kenampakan dan kejelasan yang terlihat perlahan-lahan mulai hilang, musnah, entah kemana pergi dan berpindah pada kehidupan lainnya. Hanya segelumit pertanyaan tidak sepatutnya dibicarakan dalam perbincangan yang kemudian berdebat bersama masalah rasa di jiwa.

Detik ini, saat usia semakin meronta minta penjelasan pada jiwa, tentang pemberian dan karya terkemuka yang tercipta. Jiwa masih saja sulit menjawab pada keadaan dan pada waktu yang melintas terlalui. Sebongkah dasar masih saja belum terdapatkan, sementara kemajuan-kemajuan dari zaman terus-terusan menggrogoti masanya.

Dunia sudah hilang kendali, menghilangkan setiap ketidak wajaran di berbagai segi kehidupan menjadi hal yang sudah terbiasa dan diwajarkan. Seakan peradaban yang dulu termuliakan tidak menghilangkan sesuatu kesan apapun di masa sekarang. Masa di mana orang lebih unik menggarap keadaan, semakin banyak peran, semakin banyak argument, semakin banyak lelucon dalam pentas seni perpentasan.

Dari semuanya aku hanya diam dan kemudian berbisik minta penjelasan….!!!

pada setiap argument yang kutemukan, alasan dan alasan terus berdatangan mengundang seuntai perkataan yang terontar mesra mempertanyakan. Ternyata takdir memang selalu menghantamku untuk diam dan bejalan mengikutinya sesuai maunya.

Ini dunia, dan aku merayap menjadi piguran dalam setiap perkisahannya…..!!!
Menjadi kejelataan dari berbagai manusia di luaran…!!!
text-align: justify;

Bentukan MARIN Bisa menjadi SPOT cantik dalam “JEPRETAN”


Karang Taraje, ini adalah salah satu nama tempat wisata pantai di daerah Lebak Selatan, tepatnya di daerah Bayah. Tempat ini berada tidak jauh dari pantai Pelabuan Ratu, Jawa Barat dan akan di temukan jika terus melewati jalan sampai keperbatasan provinsi Banten. Pantai ini sendiri tidak jauh dari perbatasan tersebut. pantai dengan keunikan karang-karang disetiap garis pantainya akan terasa lebih indah saat ombak putihnya menimpa karang-karang hitam. Deburan ombaknya sangat terlihat jelas, putih dan
Gambar: Debur Ombak pada sisi karang
berbuih dengan BG (background) biru tajam, hal ini dikarenakan bersih air laut di pantai karang taraje masih begitu terjaga. Selain itu beberapa spot yang ada di dilukiskan dapat mengembalikan imajinasi untuk mengarahkan lensa kamera. Terlihat begitu eksotis……

Gambar: bentukan marin di tengah laut
Potensi marin di kawasan pantai karang taraje pun, dapat menjadi daftar spot dalam mengoleksi keindahan foto-foto landscape. Matahari tenggelam pun bisa di amati dengan sangat santai dalam bentukan morfologi alam berupa karang-karang besar yang curam ke tengah laut. Hmm…. Bisa dibayangkan. Menikmati sunset dengan tempat senyaman itu….
karang-karang yang menghadap langsung ke tengah laut
Gambar: karang-karang besar dan memanjang ke tengah laut

Saat senja tiba, ombak laut yang semula besar dan terlihat mengambuk menampar karang-karang dipinggrian pantai kembali jinak, dan moment yang paling indah saat air laut surut menegah… lagi, lagi BG yang cantik. Semua karang yang tersembunyi menampakan diri dan menjadi pembatas garis-garis pantai yang eksotis… akan banyak bentukan batuan marin disana. Hem,,, tentunya akan menjadi spot menempatkan model berekspresi.

di Tengah Laut ada “PULO MANUK”


Diantara lautan lepas yang tajam memecahkan gelombang ke pesisir pantainya. Sebuah altar, dimana saat pandangan akan memfokuskan arahnya ke tengah lautan, maka akan terlihatlah sebuah karang besar di antara alunan biru pancaran kejauhanya. Yah… sebuah karang besar yang konon menurut orang setempat merupakan tempat burung-burung beristirahat saat telah lelah mengudara. Pulo Manuk, biasa orang menyebutnya. Pantai yang berada di sebuah kecamatan di kabupaten Lebak Provinsi Banten ini merupakan tempat nongkrong yang biasa digunakan para muda-mudi sekitaran daerah pantai. Pantai disebuah kecamatan bernama Bayah yang kadang orang-orang sering menyebutnya sebagai kota bungsu, mengingat bayah merupakan daerah dengan potensi alamnya yang sangat bagus.
gambar Karang dtengah laut yang disebut warga sekitar "Pulo Manuk"
Gambar: pulo manuk yang ada di tengah laut
Hamparan pasir putihnya yang masih sangat bersih itu mempunyai daya tarik sendiri bagi para pengunjung, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Keberadaan pantai di selatan pulau jawa ini tidak banyak diketahui orang, sehingga tak banyak orang tahu keindahan pantai yang biasa dijadikan tempat mandi atau hanya sekedar bermain air oleh para pengunjungnya.
Tidak hanya itu, pantai yang pernah dijadikan shooting salah satu sinetron laga “Dendam Nyi Pelet” itu memiliki view yang banyak, sehingga kita tak hanya bisa mengarahkan pandangannya ke terjangan ombak pantai lepasnya saja, akan tetapi deretan karang yang memanjang serta agar-agaran hijaunya, menambah daftar  view yang bisa dijadikan jepretan lensa mata kamera kita.
Jika keadan air laut sedang surut kita bisa mencoba berjalan di bentangan karang-karang datar di tengah lautnya, menuju karang tengah laut “Pulo Manuk”. Maka kita kan bisa menyaksikan tempat itu  dari arah yang lebih dekat.
Jika masih belum puas juga, kita bisa menyewa perahu milik para nelayan yag biasa mencari ikan disana untuk mengelilingi laut. Karena setidaknya jepretan kita juga akan ditambahkan dengan gambar-gambar yang hanya bisa di dapatkan jika kita berada di tengah laut.

Jumat, 03 Februari 2012

Perubahan_Untuk perut buncit bukan gizi buruk


(berjuang untuk hidup yng lebih baik, untuk perut buncit bukan gizi buruk....)

konflik yang membabi buta keadaan....
tinggalkan saja negara yang sudah tidak tentram...
bukan lagi pada perbatasan atau sebuah patok yang digeser tetangga...
tapi pada sebuah kata "kemanusian..."
tidak ada salahnya anda berjuang demi keluarga, demi anak yang hanya berupa tulang dilapisi kulit...
tanpa ornamen seragam yang berwarna bendera kebanggan...
sudahlah tinggalkan saja jika nasionalisme tak bisa menghidupi anda....
lalu teriakan merdeka pada pilihan...
berjuang untuk hidup yng lebih baik, untuk perut buncit bukan gizi buruk....

(gelo, sorangan... haha)

di sebuah Rawa Tempat Ratusan ikan Tertawa



Buih air itu bukti nyata kami ada,  mengarungi setiap percikan yang tercipta dalam arus kehidupan, kadang bersandiwara dengan angin di buritan dan Bermanja bersama badai yang ciptakan kekuatan. Berlayar terus berkibar… suara mesin ciptakan keharmonisan, dan telanjang dalam takdir yang akhirnya harus demikian. Semangat dan harapan selalu menggoda dalam sebuah perjuangan, menghilangkan setiap langkah kegelisahan. 

Membantai kepercayaan


kepercayaanku dihancurkan...
oleh rupa-rupa keangkuhan...
dan mati pada daftar pendustaan yang terlontar dengan kata "setan"
sempurna bukan rupa manusia jelata sepertiku...
mengancam sebagian raga dengan pernak-pernik pelengkap, dan jiwa tak punya peran...
lantas melata dan meradang kutancapkan dengan muka aneh bergemetar....
akh, setan bertempik sementara hujan masih mencoba mendinginkan...
aku tetap liar pada caraku mengendalikan ketidakberdayaan...
semuanya menghitamkan rasa dengan kata "dusta"...
malas ku mendengarkan... tai kucing untuk pembualan yang tak bermutu dan tak berkesan.

hari ini dimana senja masih biasa menampakan dirinya...
TUHAN memberi luka untuk ku abadikan pada sebuah keadaan...
tentang tragisnya aku bercerita...
TUHAN masih saja bercanda...
dan dia mempertontonkan kembali sadisnya cakaraan duri krisan muda...
kemudian belati tua kian mengancam jiwa...

ku katakan, tai kucing untuk semua...
kepercayaan, sebuah topeng maha bijaksana...???
tai kucing untuk keadaan...
hanya kejalangan rupa wanita yang terangkuhkan keadaan...
meradang terlalu luar biasa untuk kematian ini...
sudah melampaui batas kemampuanku memberi kesan...
hingga setan berbahak pada tenggeran pucuk-pucuk pendustaan...!!!

fuck of untuk sebuah keruntuhan kepercayaan ini
semoga kembali terbangun oleh perubahan....!!!